Saturday, December 19, 2015

Untuk kamu

Kenapa sulit sekali terlepas dari bayanganmu? Padahal ia berwarna hitam kelam. Tak ada cahaya yang nampak, hanya gelap dan hampa. Meski bila kuingat-ingat lagi semuanya, saat-saat bersamamu tak sekelam kelihatannya. Ingat tidak ketika kita sama-sama terjaga semalaman penuh, hanya berbincang hangat. Bercanda gurau. Aku bahkan menunggumu membasuh muka hanya karena kau mengantuk.
Masih ingat kah kamu tentang "nyaman" yang kita rasakan. Kamu bilang, kita akan selalu bersama selamanya, karena nyaman. Tapi kamu lupa satu hal, "nothing last forever". Kita yang sekarang bukan lagi kita yang dulu. Kebersamaan kita yang sekarang, bukan lagi kebersamaan kita yang dulu. Meski aku rindu dengan semuanya tentang 'kita', percayalah satu hal, bahwa kebahagiaanmulah yang jauh lebih berharga.
Jadi biarlah kau tetap menjadi bayangan itu. Bayangan yang selalu mengejarku kemanapun kupergi. Yang akan selalu ku ingat setiap kali aku menoleh kebelakang. Kamu akan selalu jadi kenangan termanis yang takan pernah kulupakan.

Terima kasih B! Atas semua tawa yang kau buat. Berbahagialah dengan cintamu.
Dan percayalah, aku masih di sini mendoakanmu.

Salam rindu,

Aku.

Monday, November 23, 2015

Bodoh

Bodoh.
Benar-benar bodoh ketika kamu jatuh ke lubang yang sama.
Kau tau dimana persis letak lubang tersebut, tapi kau masih saja terjatuh.
Bodoh.

Kalau saja merutuki diri sendiri ada harganya, mungkin aku sudah jadi jutawan.
Tapi memang benar. Ini semua benar-benar bodoh.
Bodoh.

Aku tidak ingin merubahmu seperti apa yang aku mau. Dan tentunya aku juga tak ingin berubah untuk alasan apapun.
Tapi realita menyudutkan kita berdua pada ruang yang salah. Yang menuntut kita untuk mempertahankan ego masing-masing.
Dan bodohnya kita, kita terhasut oleh ego.
Bodoh.

Lalu aku di sini. Termenung oleh waktu yang berlalu.
Dadaku sesak, di apit rindu.
Tanganku basah menyeka air mata sendiri.
Salahku? Mungkin karna banyak menuntut.
Menuntut kehadiranmu. Menuntut perhatianmu. Menuntut waktumu. Menuntut kejujuranmu. Menuntut cintamu. Menuntut kasih sayangmu. Menuntut rindumu.
Dan itu bodoh.
Karena sebanyak apapun aku menuntut, kau tidak akan memberikan.
Bodoh.

Lalu apa lagi yang bodoh?
Pertengkaran ini? Ya.. Tentu saja. Kata demi kata di jabarkan untuk menjelaskan perasaan masing-masing.
Apa yang salah, entah, kita sibuk meneriaki satu sama lain tanpa tau sebabnya.
Ingin di mengerti, tapi tidak mau mengerti.
Bodoh.

Tolol.

Wednesday, October 21, 2015

Kalau ada kata selain 'sakit' yang bisa mendeskripsikan perasaanku saat ini, maka aku akan menggunakannya
Penyesalan masih berbayang di setiap sudut otakku
Tentang lalainya aku menjagamu, tentang melepasmu untuk orang yang salah
Meninggalkanmu membuat pilu

Maka ku katakan pada bulan malam ini agar tetap bersinar
Agar malamnya tak sekelam aku
Agar tidurnya tak segelisah tidurku
Agar senyumanya bisa mengembang sebelum ia terlelap dalam

Lalu ku katakan pada embun, untuk tetap ada di paginya
Agar paginya bisa tenang
Agar hidupnya terasa damai dan sejuk
Agar paginya tetap indah

Tak lupa juga aku titip pesan pada mentari untuk bersinar
Agar tubuhnya tetap hangat
Agar harinya tak pernah sendirian
Agar langkahnya tetap senada dengan senyumannya

Jika aku bisa, maka aku ingin melakukan semuanya
Tak perlulah menitip pesan pada mereka, Aku siap melakukannya
Tapi aku sudah kehilanganmu.
Malamku menjadi kelam. Pagiku tak lagi indah. Dan siangku tak lagi hangat
Dan aku tak ingin hidupmu seperti aku.

Thursday, September 17, 2015

Siklus

Ketika kau ingin berhenti tapi tidak bisa, apa yang akan kau lakukan? Aku bosan. Tidak ingin melulu soal cinta, soal sakit. Aku ingin sesuatu yang baru. Rasanya tidak ingin memikirkan dimana aku akan berpijak, tidak ingin memikirkan kemarin. Karena kemarin sudah menjadi sejarah, sejarah yang melulu ku ungkit. Hingga akhirnya aku capek sendiri. Terlalu terfokus pada masa lalu, akhirnya hari ini mengungkit sakit lagi. Lalu aku akan merangkai kata-kata pedih untukku sendiri(lagi), lalu aku akan berfikir bahwa itu bodoh, dan menyesal, kemudian kembali merasa lelah. Siklus itu terulang setiap harinya. Aku hanya lelah.

Kemarin memang istimewa. Mungkin memang sekarang aku tak mendapatkan apa yang kupunya kemarin. Ah sudahlah, kalau begini nanti yang ku bicarakan tentang sakit. Dan siklus itu kembali terulang. Lalu apa yang harus aku lakukan. Apakah kehidupanku hanya terpentok soal cinta? Lalu sakit hati? Lalu siklus itu terulang? Lelah.. Lelah. Mencari jalan lain yang bisa kupijaki, yang barang kali tidak berlubang ataupun buntu—kuharap. Tapi selagi mencari, yang bisa kulewati tetap jalan ini. Likunya bagai mati, ujungnya bagai duri. Dan sakit itu berulang lagi, siklus itu—ah sudahlah! Jangan bicarakan siklus itu lagi.

Kalau aku burung, sudah pasti aku akan terbang setinggi langit dan mencari tempat tenang sendiri. Menyusun siklus baru, jalan baru, dan pegangan yang baru. Tapi bagaimana bisa terbang? Aku bukan burung. Jalanpun masih terseok-seok. Berlari malah tersandung oleh masa lalu. Lalu ketika aku jatuh, tak ada tangan yang bisa kuraih. Dia mungkin malah menertawakanku. Dia yang ku maksud adalah orang yang membuat siklusku terus berulang. Dia penyebab atas terjebaknya aku dalam ruang kosong penuh sesak. Ya, sekedar mengingatkan diriku saja, dulu dia yang menyusun pelangi di hariku. Merangkai rembulan di malamku. Tapi itu dulu. Nah kan! Lagi-lagi aku membahas kemarin. Mau sampai kapan aku tersandung dan jatuh? Nyatanya waktu ada, bukan untuk di ulang. Tapi bagaimana bisa sakit ini berulang terus? Lagi dan lagi.. Tanpa ampun.

Kupikir yang menjadi persoalan adalah siklus itu. Tapi salah. Persoalannya adalah diriku. Karena aku yang berlari hingga tersandung. Kaki-kaki ini tak mungkin bergerak sendiri tanpa empunya kan? Jadi yang salah adalah aku? Lalu bagaimana caranya aku menghentikannya? Bunuh diri? Halah bodoh! Sudah sakit, masih ingin merasakan sakit yang lain. Katanya ingin berhenti melulu soal sakit? Menyalahkan diri sendiri toh tak ada gunanya. Meratapi nasib juga sia-sia. Apalagi mengulang siklus sialan itu. Lalu bagaimana caranya agar semua berubah? Tak melulu soal cinta, tak melulu soal sakit, tak melulu malu pada senja. Bagaimana?

Friday, September 11, 2015

Aku Ingin

Hujatlah aku dengan cinta tanpa ampun
Bencilah aku sampai yang tersisa hanya rindu
Hinalah aku sampai yang tersisa hanya rasa
Sampai akhirnya tak ada dendam yang kau rasa, melainkan cinta

Aku ingin di cintai tanpa benci
Aku ingin di cintai tanpa dendam
Aku ingin di cintai dengan hati

Sunday, August 30, 2015

Pesan untuk Tuhan. untuk dia

Tuhan, aku merindukannya.
Kenangan menusuk-nusukku dengan liarnya
Mencoba mengambil alih kehidupanku sekarang
Dengan kejamnya, ia menarikku kemasa itu.
Masa bersamanya.

Tuhan, aku ingin semuanya kembali
Meski tak ada replika yang sama dengan aslinya
Aku hanya ingin mencoba membuat patung lilin yang menyerupai
Tanpa nafas, tanpa jantung.
Lalu aku ingin menikmatinya lagi, seperti waktu itu.

Tuhan, aku ingin bersamanya
Walaupun dengan segala adu mulut, pertengkaran dan perbedaan
Aku akan memandanginya, kemudian tersenyum
Besyukur karena masa itu bisa kembali lagi
Nyatanya waktu ada, bukan untuk di ulang

Tuhan, kumohon jagalah dia.
Meski tangan ini tak mampu menyentuhnya
Tapi tangan-Mu selalu kokoh melindunginya
Lindungi pikirannya dari berbagai macam hal yang ia pikirkan
Buatlah hidupnya selalu bahagia.

Tuhan, jika memang begini akhirnya. 
Aku titip dia.
Aku titip hatiku yang selalu bersamanya. Aku titip doa-doaku yang mengiringi langkahnya
Aku titip senyumannya agar selalu mengembang indah

Tuhan, Terimakasih

Thursday, August 27, 2015

Malam ini

Kisah ini runtuh tak berbekas sesentipun
Mulutku sudah lelah menjabarkan rasa sakit yang terasa, hingga lama-lama terbiasa
Banyak orang mencela tanpa bertanya
Ketika bertanya, justru pada orang yang salah
Sehingga lagi-lagi harus aku jelaskan semuanya
Bercerita pun tak semudah berkedip, rasanya seperti semua terputar di otakku, nyeri di hatiku dan semuanya keluar lewat lisan
Lalu apa yang mereka katakan?
Tidak membantu. Mencoba tetapi tidak bisa sama sekali
Jadi yang kulakukan hanya mengulang sakit berkali-kali, setiap hari, pada setiap orang yang bertanya
Kalau bisa aku ingin menghilang, lenyap bersama kenangan dan rasa sakit ini
Lalu kembali ketika sudah sembuh, kembali ketika mereka sudah lelah bertanya
Tapi nyatanya itu mustahil bukan?
Nyatanya tak ada sela jemari yang bisa ku genggam untuk menguatkanku
Tak ada bahu untukku bersandar ketika lelah
Tak ada candaan lucu untukku agar aku tersenyum
Ada kamu atau tidak.
Nyatanya aku seorang diri
Lalu mengapa mereka masih bertanya?