Saturday, April 5, 2014

mencintai dalam diam

aku menatapmu lagi, dari jauh tentunya. memandangi wajahmu yang tak pernah membuatku bosan. kamu tertawa, bercanda gurau dengan teman-teman sebayamu. kamu bahagia, tentu aku bahagia. tetapi apa kamu tau apa yang lebih membuatku berbahagia dari ini? yaitu aku duduk di sana, di hadapanmu dan membuatmu tertawa.

tetapi lihatlah apa yang dapat aku perbuat? aku hanya bisa memandangimu dari jauh, mencintaimu dalam diam, merindukanmu dalam hujan, berbicara denganmu dalam mimpi.
aku tak pernah lelah menunggumu sendirian. aku tak pernah lelah mencintaimu, karena memandangmu selalu lebih dari cukup. dan memimpikan masa depan kita yang hanya aku yang tau. kau tidak perlu khawatir, perasaanku takan pernah mengganggu hidupmu. karena aku akan selalu mengirimkan cinta dari jauh, mungkin akan sangat lama hingga kau menyadarinya, atau bahkan kau tak akan pernah menyadarinya. mengingat betapa jauhnya perasaan kita.


cinta baruku, terimakasih untuk selalu tersenyum dan membuatku ikut tersenyum juga. tetaplah menjadi dirimu. dan percayalah, aku mencintaimu dalam diam.

--A--

Sunday, March 23, 2014

Berbicara dengan Takdir

       Hari ini aku hanya menghabiskan waktuku berdiam diri di depan laptop.
       Aku sedikit bertanya-tanya pada diriku sendiri, mengapa hidupku seperti ini? aku berandai-andai bahwa takdir salah menuliskan cerita di hidupku. untuk memastikannya, aku mencoba menulis pesan singkat untuk takdir, "Bisakah kita bertemu? hanya untuk 5 menit saja? aku ingin bertanya sesuatu padamu.", takdirpun tak menjawab. Berjam-jam aku terus memandangi handphoneku, menunggu jawaban dari takdir. Hingga ia pun membalas, "Baiklah, temui aku di depan Cafe sore ini."

      Akupun bersiap dan segera berlari menuju Cafe itu. Tepat pukul 5, akhirnya aku bertemu Takdir. Berbincang-bincang sambil menyeruput coklat panas. Takdir terdiam, ia nampaknya tidak penasaran dengan apa yang ingin aku tanyakan. lalu akupun memulai pembicaraan ini,

"Takdir, apakah kau salah menuliskan hidupku?" tanyaku dengan penuh pengharapan.
"Tidak, aku adalah orang yang selalu benar." ucapnya begitu percaya diri.
"Lalu takdir, mengapa hidupku seperti ini?"
"Memangnya kamu mau seperti apa?"

      Aku terdiam, berbagai imajinasi bergelayutan di dalam pikiranku. banyak sekali yang aku inginkan di hidupku. bahkan aku sampai tak dapat berkata-kata.

"aku ingin rumah yang mewah, uang yang banyak, terkenal dan memiliki pangeran yang tampan."

      Takdir terdiam, ia menyeruput cangkirnya. Cukup lama ia terdiam memandangiku, hingga akhirnya segaris senyuman pun terlihat di bibirnya.

"Bagaimana jika aku memberikanmu hidup yang sempurna. segalanya akan mudah kau dapatkan. dan hidupmu akan jauh lebih baik dari hari ini, tetapi dengan satu syarat.." ucap takdir

      Aku pun mengangguk dengan cepat. siapa yang tidak mau hidup di dunia dengan segala kesempurnaan di dalamnya?

"Apa syaratnya?"
"Syaratnya hanya dengan menjawab pertanyaanku, dan pertanyaannya adalah jika segala kesempurnaan sudah kau dapatkan, apa lagi yang akan kau lakukan di dunia ini?"

      Aku pun terdiam. aku bertanya-tanya sendiri di dalam hati. Apa? jika semuanya sudah ku dapatkan, apa lagi yang harus aku lakukan?. Aku terdiam dan terus terdiam. Hingga langit mulai gelap, coklat panas di cangkir Takdir sudah habis. Takdir terus memandangiku tanpa berkedip. ia menunggu jawaban yang tak kunjung aku keluarkan.
      Takdirpun bangkit dari tempat duduknya, seraya berkata, "Hubungi aku lagi jika kau sudah mendapatkan jawabannya, barulah aku akan memberikanmu hidup sesempurna yang kau mau."

Saturday, March 22, 2014

i love you

i love you i love
i love you i love you i love you i love you i love you i love you i love
i love you i love you i love you i love you i love you i love you i love y
i love you i love you i love you i love you i love you i love you i love you
i love you i love                                                           i love you i love you
i love you i love                                                             i love you i love you
i love you i love                                                              i love you i love you
i love you i love                                                                i love you i love you
i love you i love                                                                  i love you i love you
i love you i love                                                                    i love you i love you
i love you i love                                                                      i love you i love you
i love you i love                                                                       i love you i love you                                  
i love you i love                                                                       i love you i love you
i love you i love                                                                     i love you i love you
i love you i love                                                                    i love you i love you
i love you i love                                                                   i love you i love you
i love you i love                                                                 i love you i love you
i love you i love                                                               i love you i love you
i love you i love                                                             i love you i love you
i love you i love                                                            i love you i love you
i love you i love you i love you i love you i love you i love you i love you i
i love you i love you i love you i love you i love you i love you i love you
i love you i love you i love you i love you i love you i love you i love y
i love you i love

Friday, February 14, 2014

#suratcintakemal

Untukmu pengganggu mimpiku,

Hai, apa kabar? Aku yakin kau baik-baik saja. Aku ingin bercerita sedikit tentang diriku, tentang hatiku, dan tentang kamu.

Aku adalah samar.
Samar?
Pantaskah aku menjadi "samar", tetapi cintaku terlihat begitu nyata?

Kamu adalah nyata.
Nyata?
Pantaskah kau ku sebut "nyata", padahal untuk menyentuhmu saja aku tak bisa.

Aku pasti bisa.
Bisa?
Pantaskah aku berkata "bisa", jika aku saja tak bisa bersamamu.

Aku akan bersamamu.
Bersamamu?
Hanya kamu yang dapat menjawabnya.


Jadi, apa aku bisa bersamamu?


Dari : seseorang yang mencintaimu dalam diam


Wednesday, January 1, 2014

Bangkit

Tak ada guna kita berduka kawan, mengenang masa lalu yang tentunya takkan terulang.
Tak ada gunanya kita menangis kawan, mengenang kesalahan-kesalahan kita terdahulu
Angkat kedua tanganmu, sebutlah nama-Nya, sang maha pencipta, maha Agung, maha segalanya
Renungkan apa yang harus kita lakukan, dan lakukanlah

Masa Depan mulai terbuka, cakrawala menunggu bayi suci itu melihat kenistaan
Jangan pernah takut kawan, Beliau selalu merangkul kita
Menengadahlah ke langit sana, lihat ke keagungan ciptaannya
Hanya di bawah sinilah kita berada, di negara nista lautan dosa

Sang penguasa sedang tersenyum melihat kita melangkah, tapi Ia ragu kemana haluan kita
Bukan orang tua yang menuntun arah mata angin kita, tapi jiwa dan hati bayi suci itu sendiri
Bangun! Tinggalkan sejenak rasa sayang pada kampung halaman
Dunia baru telah menunggu.. Sampaikan salamku untuk lautan dosa itu
Kelak kita akan menjadi bayi suci itu lagi..

Sunday, December 22, 2013

kenapa kamu???


Hey kamu! Yaa.. Kamu! Kemal palevi!!

sial..! mengapa merindukanmu serasa hal yang wajib aku lakukan?
berkali-kali aku katakan, Aku mau! mau merasakan duka itu bersamamu, merasakan sakit itu asal bersamamu, menikmati hujan tanpa penghalang, memandangi bintang sampai leher ini sakit.. aku selalu mau.

selalu kamu.... kenapa?
dan selalu dia... kenapa?
lalu aku mencintaimu..... memangnya kenapa?
bukan aku, aku tau.. lalu kenapa?

lihat!! aku mampu terus mencintaimu, aku mampu terus tersenyum, aku mampu melihatmu dengannya. Lalu kenapa?? kenapa masih banyak yang bertanya?

aku sama bingungnya dengan mereka
kenapa kamu???
kenapa selalu kamu??
lalu kenapa jika aku mencintaimu??
aku sendiri tidak dapat menjawabnya..
Lalu kenapa jika aku ingin menunggumu?

 TOH, AKU BERSEDIA MENUNGGUMU


Dari  seseorang yang mau dan selau akan menunggumu! Aku!



Saturday, November 23, 2013

Perbedaan

sejak 5 menit yang lalu kita memang hanya duduk bersebelahan tanpa berpandangan ataupun berbicara. tetapi pertanyaanku yang ku lontarkan 1 menit yang lalu, nampaknya menambah perpanjangan waktu yang sunyi ini. dika masih saja memandangi langit yang kosong, tak ada 1 bintangpun di sana. bahkan bulanpun tak ada.

"kenapa tuhan memberikan berbagai warna pada pelangi?" pertanyaan yang sudah kulontarkan 1 menit yang lalu tak kunjung di jawab oleh dika. padahal aku bertanya untuk mengusir keheningan yang menjambangi kita sejak tadi tapi sepertinya tak berhasil.
"karena perbedaan itu indah." Jawab dika dengan wajah yang sangat serius
"Coba aja kamu lihat, apakah akan indah jika hanya ada 1 warna? Apakah akan semenarik itu jika hanya 1 warna saja?" Lanjutnya menjelaskan.
Aku memandangi wajahnya dengan tatapan tegar. Mungkin dika tau apa maksud pertanyaanku itu.
"Kalau perbedaan itu indah, mengapa semuanya terasa menyakitkan dik?"

Dika terdiam, cukup lama. Ia memandang ke arahku. Tepat ke arah mataku. Berbeda memang tak pernah ada salahnya, lalu apa yang salah? Kenapa semuanya terasa sangat menyakitkan?

"Karena ini baru awal den, tak akan ada pelangi sebelum ada hujan. Tak akan ada bintang sebelum langit menjadi gelap."
"Lalu kapan kisah ini berakhir bahagia?"
Dika terdiam lagi...

"Aku gak tau, tapi takdir tau. Jadi tanyakan saja pada takdir."

Aku tersenyum dan berhenti bertanya. Aku tak mau membuat Dika kebingungan lagi. Aku rasa semuanya jelas. Tidak pernah ada jawabannya "mengapa ini menyakitkan?." Tapi aku yakin, jika setelah hujan aja akan ada pelangi. Berarti setelah perjuangan ini pasti akan ada kebahagiaan.

Dika bangkit dari tempat duduknya, begitu juga aku. Kita berjalan ke arah utara dengan saling tersenyum dan bertatapan. Tangan Dika masih erat memegang tanganku. Hingga genggaman itu terlepas di ujung jalan. Dika melambaikan tangganya lalu berjalan menjauh, kalung Salib yang tergantung di lehernya berayun karena gerakan tubuh Dika. Sedangkan aku, sibuk merogoh tasku, mencari-cari tasbih dan bersiap untuk ibadah, sama seperti Dika.