Hai kepingan rindu? Masih setiakah menunggu?
Aku saja sudah bosan berlucut debu
Tak risaukah menyiasati waktu
Agar yang di tunggu akan segera kembali padamu
Nyatanya kau mati dalam sendu
Saturday, March 5, 2016
Thursday, February 11, 2016
Hujan bulan februari
Hujan di bulan februari, mungkin telah mengguyur habis semua kenangan yang pernah ada. Membawanya pergi ke persimpangan memori di otakku. Kemudian membiarkan posisinya semula kosong untuk nantinya ku isi lagi dengan kenangan baru.
Lama.. Rasa-rasanya ini sudah terlalu lama aku meringkuk di dalam bayang-bayangnya. Berusaha menghangat dan menetap lebih lama agar hujan tak membasahi tubuhku. Namun ternyata yang kulakukan ini salah, salah besar.
Selamanya aku akan takut dingin jika tak bersentuhan dengannya. Selamanya aku akan mengidamkam hangat jika terus berada di sana. Hinga lama-lama aku tak tau apa itu hangat, karena nyatanya dingin lebih mendominasi. Aku tak ingin jadi pengecut. Aku ingin hujan menghujamku dengan liar. Aku ingin air-air itu menyeret habis semua kesedihan. Hingga yang tersisa hanya kebahagiaan.
Dan aku ingin membuat kenangan baru bersama hujan. Biarlah dingin ini menusuk tulangku. Toh, lama-lama aku akan terbiasa. Dan kau juga harus belajar melangkah. Hidupmu bukan melulu tentangku, begitu juga dengan hidupku. Kita sudah membuat kisah indah di bulan oktober lalu, kini buku itu sudah penuh dengan tawa, tangis, rindu dan rasa. Bagaimana jika kita tutup buku itu, dan membuka lembaran baru?
Lembaran hidupmu tanpa aku, dan lembaran hidupku tanpa kamu.
Bersama kita telah menciptakan buku yang indah. Mungkin jika terpisah, ceritanya akan lebih menarik. Jangan takut untuk menulis sendiri, aku tak akan meninggalkanmu begitu saja. Aku akan membantumu merangkai kata, hingga akhirnya kau bisa melakukannya sendiri.
Berjanjilah untuk membuat buku barumu itu lebih indah dari yang sebelumnya, walau tanpa aku. Aku pasti bersedia untuk membaca karyamu. Dan berbahagialah dengan mentari hangat itu, maka aku berjanji akan tersenyum bersama hujan bulan februari.
Lama.. Rasa-rasanya ini sudah terlalu lama aku meringkuk di dalam bayang-bayangnya. Berusaha menghangat dan menetap lebih lama agar hujan tak membasahi tubuhku. Namun ternyata yang kulakukan ini salah, salah besar.
Selamanya aku akan takut dingin jika tak bersentuhan dengannya. Selamanya aku akan mengidamkam hangat jika terus berada di sana. Hinga lama-lama aku tak tau apa itu hangat, karena nyatanya dingin lebih mendominasi. Aku tak ingin jadi pengecut. Aku ingin hujan menghujamku dengan liar. Aku ingin air-air itu menyeret habis semua kesedihan. Hingga yang tersisa hanya kebahagiaan.
Dan aku ingin membuat kenangan baru bersama hujan. Biarlah dingin ini menusuk tulangku. Toh, lama-lama aku akan terbiasa. Dan kau juga harus belajar melangkah. Hidupmu bukan melulu tentangku, begitu juga dengan hidupku. Kita sudah membuat kisah indah di bulan oktober lalu, kini buku itu sudah penuh dengan tawa, tangis, rindu dan rasa. Bagaimana jika kita tutup buku itu, dan membuka lembaran baru?
Lembaran hidupmu tanpa aku, dan lembaran hidupku tanpa kamu.
Bersama kita telah menciptakan buku yang indah. Mungkin jika terpisah, ceritanya akan lebih menarik. Jangan takut untuk menulis sendiri, aku tak akan meninggalkanmu begitu saja. Aku akan membantumu merangkai kata, hingga akhirnya kau bisa melakukannya sendiri.
Berjanjilah untuk membuat buku barumu itu lebih indah dari yang sebelumnya, walau tanpa aku. Aku pasti bersedia untuk membaca karyamu. Dan berbahagialah dengan mentari hangat itu, maka aku berjanji akan tersenyum bersama hujan bulan februari.
Saturday, January 9, 2016
Selamat berjalan
hai. Sekali lagi kukatakan, jangan menoleh ke belakang. Biarlah yang lalu itu lama kelamaan lenyap dimakan zaman. Jalani saja apa yang ada. Sudah, jangan di pikirkan. Tidak lelah bukan? Kau hanya perlu berjalan kecil, bukan berlari. Jika kau lelah, kau bisa beristirahat. Namun lagi-lagi ku katakan, jangan menoleh. Yang perlu kau lakukan hanya menarik nafas dan kemudian melanjutkan perjalananmu. Meski kau sendiri tidak tau muaranya. Tapi jalan saja kedepan, siapa tau kita bertemu di persimpangan sana. Saat masalalu mu sudah tertinggal jauh dan saat masalaluku sudah terbang di bawa angin. Maka setelahnya, ayo kita berjalan bersama. Tidak bergandengan, tidak perlu terburu-buru. Asal kita tetap bersama, semuanya pasti indah kan? Jalannya menang terjal, tapi kita masih punya Tuhan yang akan menuntun.
Jadi teruslah berjalan tanpa menoleh. Ku tunggu kau di persimpangan itu.
Selamat berjalan.
Saturday, December 19, 2015
Untuk kamu
Kenapa sulit sekali terlepas dari bayanganmu? Padahal ia berwarna hitam kelam. Tak ada cahaya yang nampak, hanya gelap dan hampa. Meski bila kuingat-ingat lagi semuanya, saat-saat bersamamu tak sekelam kelihatannya. Ingat tidak ketika kita sama-sama terjaga semalaman penuh, hanya berbincang hangat. Bercanda gurau. Aku bahkan menunggumu membasuh muka hanya karena kau mengantuk.
Masih ingat kah kamu tentang "nyaman" yang kita rasakan. Kamu bilang, kita akan selalu bersama selamanya, karena nyaman. Tapi kamu lupa satu hal, "nothing last forever". Kita yang sekarang bukan lagi kita yang dulu. Kebersamaan kita yang sekarang, bukan lagi kebersamaan kita yang dulu. Meski aku rindu dengan semuanya tentang 'kita', percayalah satu hal, bahwa kebahagiaanmulah yang jauh lebih berharga.
Jadi biarlah kau tetap menjadi bayangan itu. Bayangan yang selalu mengejarku kemanapun kupergi. Yang akan selalu ku ingat setiap kali aku menoleh kebelakang. Kamu akan selalu jadi kenangan termanis yang takan pernah kulupakan.
Terima kasih B! Atas semua tawa yang kau buat. Berbahagialah dengan cintamu.
Dan percayalah, aku masih di sini mendoakanmu.
Salam rindu,
Aku.
Masih ingat kah kamu tentang "nyaman" yang kita rasakan. Kamu bilang, kita akan selalu bersama selamanya, karena nyaman. Tapi kamu lupa satu hal, "nothing last forever". Kita yang sekarang bukan lagi kita yang dulu. Kebersamaan kita yang sekarang, bukan lagi kebersamaan kita yang dulu. Meski aku rindu dengan semuanya tentang 'kita', percayalah satu hal, bahwa kebahagiaanmulah yang jauh lebih berharga.
Jadi biarlah kau tetap menjadi bayangan itu. Bayangan yang selalu mengejarku kemanapun kupergi. Yang akan selalu ku ingat setiap kali aku menoleh kebelakang. Kamu akan selalu jadi kenangan termanis yang takan pernah kulupakan.
Terima kasih B! Atas semua tawa yang kau buat. Berbahagialah dengan cintamu.
Dan percayalah, aku masih di sini mendoakanmu.
Salam rindu,
Aku.
Monday, November 23, 2015
Bodoh
Bodoh.
Benar-benar bodoh ketika kamu jatuh ke lubang yang sama.
Kau tau dimana persis letak lubang tersebut, tapi kau masih saja terjatuh.
Bodoh.
Kalau saja merutuki diri sendiri ada harganya, mungkin aku sudah jadi jutawan.
Tapi memang benar. Ini semua benar-benar bodoh.
Bodoh.
Aku tidak ingin merubahmu seperti apa yang aku mau. Dan tentunya aku juga tak ingin berubah untuk alasan apapun.
Tapi realita menyudutkan kita berdua pada ruang yang salah. Yang menuntut kita untuk mempertahankan ego masing-masing.
Dan bodohnya kita, kita terhasut oleh ego.
Bodoh.
Lalu aku di sini. Termenung oleh waktu yang berlalu.
Dadaku sesak, di apit rindu.
Tanganku basah menyeka air mata sendiri.
Salahku? Mungkin karna banyak menuntut.
Menuntut kehadiranmu. Menuntut perhatianmu. Menuntut waktumu. Menuntut kejujuranmu. Menuntut cintamu. Menuntut kasih sayangmu. Menuntut rindumu.
Dan itu bodoh.
Karena sebanyak apapun aku menuntut, kau tidak akan memberikan.
Bodoh.
Lalu apa lagi yang bodoh?
Pertengkaran ini? Ya.. Tentu saja. Kata demi kata di jabarkan untuk menjelaskan perasaan masing-masing.
Apa yang salah, entah, kita sibuk meneriaki satu sama lain tanpa tau sebabnya.
Ingin di mengerti, tapi tidak mau mengerti.
Bodoh.
Tolol.
Benar-benar bodoh ketika kamu jatuh ke lubang yang sama.
Kau tau dimana persis letak lubang tersebut, tapi kau masih saja terjatuh.
Bodoh.
Kalau saja merutuki diri sendiri ada harganya, mungkin aku sudah jadi jutawan.
Tapi memang benar. Ini semua benar-benar bodoh.
Bodoh.
Aku tidak ingin merubahmu seperti apa yang aku mau. Dan tentunya aku juga tak ingin berubah untuk alasan apapun.
Tapi realita menyudutkan kita berdua pada ruang yang salah. Yang menuntut kita untuk mempertahankan ego masing-masing.
Dan bodohnya kita, kita terhasut oleh ego.
Bodoh.
Lalu aku di sini. Termenung oleh waktu yang berlalu.
Dadaku sesak, di apit rindu.
Tanganku basah menyeka air mata sendiri.
Salahku? Mungkin karna banyak menuntut.
Menuntut kehadiranmu. Menuntut perhatianmu. Menuntut waktumu. Menuntut kejujuranmu. Menuntut cintamu. Menuntut kasih sayangmu. Menuntut rindumu.
Dan itu bodoh.
Karena sebanyak apapun aku menuntut, kau tidak akan memberikan.
Bodoh.
Lalu apa lagi yang bodoh?
Pertengkaran ini? Ya.. Tentu saja. Kata demi kata di jabarkan untuk menjelaskan perasaan masing-masing.
Apa yang salah, entah, kita sibuk meneriaki satu sama lain tanpa tau sebabnya.
Ingin di mengerti, tapi tidak mau mengerti.
Bodoh.
Tolol.
Wednesday, October 21, 2015
Kalau ada kata selain 'sakit' yang bisa mendeskripsikan perasaanku saat ini, maka aku akan menggunakannya
Penyesalan masih berbayang di setiap sudut otakku
Tentang lalainya aku menjagamu, tentang melepasmu untuk orang yang salah
Meninggalkanmu membuat pilu
Maka ku katakan pada bulan malam ini agar tetap bersinar
Agar malamnya tak sekelam aku
Agar tidurnya tak segelisah tidurku
Agar senyumanya bisa mengembang sebelum ia terlelap dalam
Lalu ku katakan pada embun, untuk tetap ada di paginya
Agar paginya bisa tenang
Agar hidupnya terasa damai dan sejuk
Agar paginya tetap indah
Tak lupa juga aku titip pesan pada mentari untuk bersinar
Agar tubuhnya tetap hangat
Agar harinya tak pernah sendirian
Agar langkahnya tetap senada dengan senyumannya
Jika aku bisa, maka aku ingin melakukan semuanya
Tak perlulah menitip pesan pada mereka, Aku siap melakukannya
Tapi aku sudah kehilanganmu.
Malamku menjadi kelam. Pagiku tak lagi indah. Dan siangku tak lagi hangat
Dan aku tak ingin hidupmu seperti aku.
Penyesalan masih berbayang di setiap sudut otakku
Tentang lalainya aku menjagamu, tentang melepasmu untuk orang yang salah
Meninggalkanmu membuat pilu
Maka ku katakan pada bulan malam ini agar tetap bersinar
Agar malamnya tak sekelam aku
Agar tidurnya tak segelisah tidurku
Agar senyumanya bisa mengembang sebelum ia terlelap dalam
Lalu ku katakan pada embun, untuk tetap ada di paginya
Agar paginya bisa tenang
Agar hidupnya terasa damai dan sejuk
Agar paginya tetap indah
Tak lupa juga aku titip pesan pada mentari untuk bersinar
Agar tubuhnya tetap hangat
Agar harinya tak pernah sendirian
Agar langkahnya tetap senada dengan senyumannya
Jika aku bisa, maka aku ingin melakukan semuanya
Tak perlulah menitip pesan pada mereka, Aku siap melakukannya
Tapi aku sudah kehilanganmu.
Malamku menjadi kelam. Pagiku tak lagi indah. Dan siangku tak lagi hangat
Dan aku tak ingin hidupmu seperti aku.
Thursday, September 17, 2015
Siklus
Ketika kau ingin berhenti tapi tidak bisa, apa yang akan kau lakukan? Aku bosan. Tidak ingin melulu soal cinta, soal sakit. Aku ingin sesuatu yang baru. Rasanya tidak ingin memikirkan dimana aku akan berpijak, tidak ingin memikirkan kemarin. Karena kemarin sudah menjadi sejarah, sejarah yang melulu ku ungkit. Hingga akhirnya aku capek sendiri. Terlalu terfokus pada masa lalu, akhirnya hari ini mengungkit sakit lagi. Lalu aku akan merangkai kata-kata pedih untukku sendiri(lagi), lalu aku akan berfikir bahwa itu bodoh, dan menyesal, kemudian kembali merasa lelah. Siklus itu terulang setiap harinya. Aku hanya lelah.
Kemarin memang istimewa. Mungkin memang sekarang aku tak mendapatkan apa yang kupunya kemarin. Ah sudahlah, kalau begini nanti yang ku bicarakan tentang sakit. Dan siklus itu kembali terulang. Lalu apa yang harus aku lakukan. Apakah kehidupanku hanya terpentok soal cinta? Lalu sakit hati? Lalu siklus itu terulang? Lelah.. Lelah. Mencari jalan lain yang bisa kupijaki, yang barang kali tidak berlubang ataupun buntu—kuharap. Tapi selagi mencari, yang bisa kulewati tetap jalan ini. Likunya bagai mati, ujungnya bagai duri. Dan sakit itu berulang lagi, siklus itu—ah sudahlah! Jangan bicarakan siklus itu lagi.
Kalau aku burung, sudah pasti aku akan terbang setinggi langit dan mencari tempat tenang sendiri. Menyusun siklus baru, jalan baru, dan pegangan yang baru. Tapi bagaimana bisa terbang? Aku bukan burung. Jalanpun masih terseok-seok. Berlari malah tersandung oleh masa lalu. Lalu ketika aku jatuh, tak ada tangan yang bisa kuraih. Dia mungkin malah menertawakanku. Dia yang ku maksud adalah orang yang membuat siklusku terus berulang. Dia penyebab atas terjebaknya aku dalam ruang kosong penuh sesak. Ya, sekedar mengingatkan diriku saja, dulu dia yang menyusun pelangi di hariku. Merangkai rembulan di malamku. Tapi itu dulu. Nah kan! Lagi-lagi aku membahas kemarin. Mau sampai kapan aku tersandung dan jatuh? Nyatanya waktu ada, bukan untuk di ulang. Tapi bagaimana bisa sakit ini berulang terus? Lagi dan lagi.. Tanpa ampun.
Kupikir yang menjadi persoalan adalah siklus itu. Tapi salah. Persoalannya adalah diriku. Karena aku yang berlari hingga tersandung. Kaki-kaki ini tak mungkin bergerak sendiri tanpa empunya kan? Jadi yang salah adalah aku? Lalu bagaimana caranya aku menghentikannya? Bunuh diri? Halah bodoh! Sudah sakit, masih ingin merasakan sakit yang lain. Katanya ingin berhenti melulu soal sakit? Menyalahkan diri sendiri toh tak ada gunanya. Meratapi nasib juga sia-sia. Apalagi mengulang siklus sialan itu. Lalu bagaimana caranya agar semua berubah? Tak melulu soal cinta, tak melulu soal sakit, tak melulu malu pada senja. Bagaimana?
Kemarin memang istimewa. Mungkin memang sekarang aku tak mendapatkan apa yang kupunya kemarin. Ah sudahlah, kalau begini nanti yang ku bicarakan tentang sakit. Dan siklus itu kembali terulang. Lalu apa yang harus aku lakukan. Apakah kehidupanku hanya terpentok soal cinta? Lalu sakit hati? Lalu siklus itu terulang? Lelah.. Lelah. Mencari jalan lain yang bisa kupijaki, yang barang kali tidak berlubang ataupun buntu—kuharap. Tapi selagi mencari, yang bisa kulewati tetap jalan ini. Likunya bagai mati, ujungnya bagai duri. Dan sakit itu berulang lagi, siklus itu—ah sudahlah! Jangan bicarakan siklus itu lagi.
Kalau aku burung, sudah pasti aku akan terbang setinggi langit dan mencari tempat tenang sendiri. Menyusun siklus baru, jalan baru, dan pegangan yang baru. Tapi bagaimana bisa terbang? Aku bukan burung. Jalanpun masih terseok-seok. Berlari malah tersandung oleh masa lalu. Lalu ketika aku jatuh, tak ada tangan yang bisa kuraih. Dia mungkin malah menertawakanku. Dia yang ku maksud adalah orang yang membuat siklusku terus berulang. Dia penyebab atas terjebaknya aku dalam ruang kosong penuh sesak. Ya, sekedar mengingatkan diriku saja, dulu dia yang menyusun pelangi di hariku. Merangkai rembulan di malamku. Tapi itu dulu. Nah kan! Lagi-lagi aku membahas kemarin. Mau sampai kapan aku tersandung dan jatuh? Nyatanya waktu ada, bukan untuk di ulang. Tapi bagaimana bisa sakit ini berulang terus? Lagi dan lagi.. Tanpa ampun.
Kupikir yang menjadi persoalan adalah siklus itu. Tapi salah. Persoalannya adalah diriku. Karena aku yang berlari hingga tersandung. Kaki-kaki ini tak mungkin bergerak sendiri tanpa empunya kan? Jadi yang salah adalah aku? Lalu bagaimana caranya aku menghentikannya? Bunuh diri? Halah bodoh! Sudah sakit, masih ingin merasakan sakit yang lain. Katanya ingin berhenti melulu soal sakit? Menyalahkan diri sendiri toh tak ada gunanya. Meratapi nasib juga sia-sia. Apalagi mengulang siklus sialan itu. Lalu bagaimana caranya agar semua berubah? Tak melulu soal cinta, tak melulu soal sakit, tak melulu malu pada senja. Bagaimana?
Subscribe to:
Posts (Atom)