Sayang, kukira banyaknya persamaa membuat kita satu.
Tapi tak pernah ku sangka, kamu adalah minyak sedangkan aku air
Kamu adalah air, sedangkan aku api
Kamu adalah terik, dan aku adalah hujan
Sayang, ternyata kita memang tak bisa bersatu, meski jalan kita searah.
Thursday, April 16, 2015
Tuesday, April 14, 2015
tulisan asal di malam kelam penuh rindu
Kurasa aku sudah kehabisan kata-kata untuk meyakinkanmu.
Tapi yang sebenarnya kupikirkan adalah pikiranmu, apa yang ada di sana, apa yang sedang kau pikirkan, apa yang kau tulis tentangku di sana?
Kalau aku mengatakan, "aku sungguh serius." Mungkin takan ada gunanya, aku tau.
Tapi semua yang kulakukan, apa itu tak juga ada gunanya? Tak juga meyakinkanmu?
Mari bertaruh.
Kuyakini tak ada yang mencintaimu seperti aku. Yang rela walau sakit sekalipun.
Yang terbangun jam 2 pagi, karena tidak tenang dengan keadaanmu.
Yang menarikmu dan berkata, "pulanglah, kau tak harus menetap."
Yang memperhatikanmu dari jauh.
Yang tak bisa tidur sebelum mendapatkan kabar darimu.
Aku tau kalau aku berlebihan, setidaknya coba sebutkan 1 nama saja. Nama seorang perempuan yang menyayangimu seperti aku.
Yang bisa membuatku yakin kalau aku melepasmu untuk orang yang tepat. Maka jika ada, aku akan mundur teratur.
Karena bagiku cinta bukan medali atau penghargaan yang harus di dapat. Bagiku, kau bahagia sudah lebih dari cukup. Aku bersungguh-sungguh.
Jika kau ragu, lantas apa lagi yang membuatku bertahan sejauh ini, selain senyummu?
Meski aku lebih ingin kau bahagia karenaku, tapi apalah dayaku ini sayang?
Sekarang, sebelum 1 nama itu terucap. Kuminta agar kau percaya padaku
Percaya kalau aku sungguh menyayangimu dan akan begitu sampai waktu yang bahkan tak berujung
Percaya bahwa aku mampu menjagamu, walau dari jauh.
Dan sejujurnya, aku ingin kau melakukan hal yang sama.
Di sini, mendekapku. Meyakiniku kalau bukan aku satu-satunya yang merindu.
P.s anjir gue ngomong apa ini? Ngaco banget haha
Tapi yang sebenarnya kupikirkan adalah pikiranmu, apa yang ada di sana, apa yang sedang kau pikirkan, apa yang kau tulis tentangku di sana?
Kalau aku mengatakan, "aku sungguh serius." Mungkin takan ada gunanya, aku tau.
Tapi semua yang kulakukan, apa itu tak juga ada gunanya? Tak juga meyakinkanmu?
Mari bertaruh.
Kuyakini tak ada yang mencintaimu seperti aku. Yang rela walau sakit sekalipun.
Yang terbangun jam 2 pagi, karena tidak tenang dengan keadaanmu.
Yang menarikmu dan berkata, "pulanglah, kau tak harus menetap."
Yang memperhatikanmu dari jauh.
Yang tak bisa tidur sebelum mendapatkan kabar darimu.
Aku tau kalau aku berlebihan, setidaknya coba sebutkan 1 nama saja. Nama seorang perempuan yang menyayangimu seperti aku.
Yang bisa membuatku yakin kalau aku melepasmu untuk orang yang tepat. Maka jika ada, aku akan mundur teratur.
Karena bagiku cinta bukan medali atau penghargaan yang harus di dapat. Bagiku, kau bahagia sudah lebih dari cukup. Aku bersungguh-sungguh.
Jika kau ragu, lantas apa lagi yang membuatku bertahan sejauh ini, selain senyummu?
Meski aku lebih ingin kau bahagia karenaku, tapi apalah dayaku ini sayang?
Sekarang, sebelum 1 nama itu terucap. Kuminta agar kau percaya padaku
Percaya kalau aku sungguh menyayangimu dan akan begitu sampai waktu yang bahkan tak berujung
Percaya bahwa aku mampu menjagamu, walau dari jauh.
Dan sejujurnya, aku ingin kau melakukan hal yang sama.
Di sini, mendekapku. Meyakiniku kalau bukan aku satu-satunya yang merindu.
P.s anjir gue ngomong apa ini? Ngaco banget haha
Sunday, April 5, 2015
Mencintai Luka
Aku mencintai luka.. Ya.. Aku cinta dengan luka.
Aku tak pernah menyianyiakannya. Setiap goresnya selalu kutampung.
Ku kumpulkan satu persatu, lalu aku membawanya kemanapun aku pergi.
Aku menutupinya dengan selembar kain, seolah tak ingin membagianya dengan yang lain.
Menjaganya seperti sesuatu yang rapuh.
Menggendongnya seperti seorang bayi mungil.
Dimanapun aku, di situ ada luka.
Temanku hanya luka—paling tidak itu yang aku tau.
Aku menyukai luka lebih dari apapun, lebih dari serial tv kesukaanku, lebih dari kucing berbulu tebal kesayanganku, atau lebih dari rasa sukaku pada dunia.
Aku lebih suka luka! Aku mencintainya.
Lambat laun, luka itu semakin banyak, semakin berat.
Kain pembungkusnya sudah tak lagi muat untuk menutupinya.
Langkahku kian lambat karena beratnya beban yang kuangkat.
Sampai akhirnya aku menyerah.
Aku duduk di taman yang sedang kulakui, kubuka kain penutup itu dan meletakkannya di tanah.
Aku menatap orang-orang dengan tatapan minta tolong, tapi tak ada yang melihat kearahku—ada, tapi tidak peduli.
Saat aku berteriak minta tolong pun, tak ada yang membantuku.
Padahal aku hanya butuh satu atau dua orang untuk membantuku untuk membawa sebagian lukaku ini, tapi nyatanya, tak ada yang mendekat—malah menjauh.
Dengan desahan putus asa dan senyuman di bibirku, aku memeluk luka-lukaku.
Karena aku tau, hanya luka yang ada di sampingku, saat tak ada satu orang pun yang peduli.
Aku mencintai luka, ya.. Aku mencintai luka
Sunday, March 15, 2015
ARTCORNER!
Hai semuanyaaaa! Daku datang lagi bawa berita, gak curhat kalo ini haha. UKM gue lagi ada acara nih. Acara puncak buat anggota mudanya, BALADA 16! Balada guee!!
Open regist buat umum! Baca ketentuannya di ----> http://artcornerxvi.blogspot.com/2015/03/pancasila-economic-art-division-proudly.html?m=1
Ayo ramein acara kita! UKM PEAD (Pancasila economic art division)
Note : kalo ada yang kurang jelas, minat atau mau nanya-nanya, bisa langsung ke contact person kita
Friday, March 6, 2015
Siapa mereka?
1. Betrix
Aku mengetahui namanya dari surat kabar edisi setahun yang lalu. Saat itu aku sedang di beri tugas membuat bubur kertas oleh guru seniku. Gambarnya terpampang jelas dan besar di halaman pertama. Berita paling di buru-buru media sosial manapun.
Alex Miller, lelaki keturunan Australia-Belanda yang sering terlihat di kawasan Brookville, Ohio. Banyak berita simpang siur tentang alasan mengapa laki-laki itu selalu berdiri di persimpangan pusat kota. Bersandar pada papan penunjuk arah, hanya melamun dengan tatapan kosong dan juga sepuntung rokok di bibirnya. Kegiatan itu ia lakukan di hampir setiap harinya.
Lelaki itu terkenal, tepat setahun yang lalu. Namun namanya sudah pudar, menguap begitu saja karena masyarakat Ohio sudah menganggapnya biasa saja. Mungkin orang-orang sudah mulai bosan melihatnya.
Dan sekarang aku berada di sini, di persimpangan jalan yang kumaksud. Aku ingin membeli buku di seberang jalan ketika kudapati lelaki itu berdiri di sana, beberapa langkah dari toko buku itu. Ia jauh lebih tampan dari pada di koran. Bersandar pada papan penunjuk arah seperti seorang model, sebelah tangannya di masukkan ke saku celana dan sebelahnya lagi memegang sepuntung rokok tanpa membakarnya.
Kata Brigitta sahabatku, ia adalah wujud nyata dari lagu The Script berjudul The Man Who Can't Be Moved. Dulu aku benar-benar mengidolakannya karena hal itu, itu sweet sekali! Jaman sekarang mana ada yang seperti dia. Dan melihatnya secara langsung sekarang, aku bahkan rela menjadikannya kekasihku, atau suamiku. Dia tampan dan terlihat berwibawa.
Tapi berhubung aku sudah mempunyai kekasih, aku jadi tidak tertarik lagi. Aku pun melangkah cepat melewatinya menuju toko buku itu. Toh, dia sedang menunggu kekasihnya untuk kembali.
2. Moreno
"Permisi tuan, ini surat kabar yang ada minta." Mia, asisten rumah tanggaku itupun meletakkan surat kabar itu di mejaku, sedikit membungkuk kemudian pergi meninggalkanku di ruangan sedirian.
Kemarin aku melihatnya lagi, Alex Miller yang dulu sempat mewarnai televisi-televisi lokal. Aku pernah mewawancarainya, dia orang yang baik dan murah senyum. Kepribadiannya yang baik dan tutur katanya yang juga baik, membuatku betah berlama-lama berbincang dengannya. Yang menjadi kesulitan hanyalah, ia tak mau di wawancara di tempat lain selain di persimpangan itu. Agak merepotkan karena banyak orang yang berlalu-lalang untuk menyebrang jalan. Tak jarang pula, Paul, kameramenku terdorong hingga gambarnya goyang semua. Kita harus mengulangnya terus menerus saat pengambilan gambar.
Dan saat aku melihatnya kemarin, Alex tidak menyapaku, seolah tak mengenalku sama sekali. Aku sedikit terkejut, apalagi saat aku menyapanya, ia menatapku dingin seolah aku benar-benar asing.
Alex Miller, Pria jangkung berkebangsaan Australia. Rambut cokelat dan berkulit putih pucat yang terus berdiri di persimpangan jalan. Di duga kekasihnya meninggal akibat kecelakaan di persimpangan jalan itu, sehingga ia berupayah menebus rasa kehilangannya dengan terus berdiri di sana.
"Payah!" Gumamku. Aku tau bukan hal ini yang membuatnya berdiri di sana. Surat kabar ini benar-benar tidak bermutu. Karena Alasan Alex berdiri di sana adalah untuk mengenang kematian ibunya 3 tahun yang lalu akibat tragedi kecelakaan maut di persimpangan itu. Meskipun Alex tidak mengatakan apapun, tapi ia tersenyum pedih saat aku menebaknya. Dan aku tau. Tebakanku benar, dan itulah yang ku tulis di redaksiku waktu itu, setahun yang lalu.
3. Jack
Persimpangan pusat kota? Aku benci tempat itu. Sangking bencinya aku selalu menyuruh adikku untuk pergi ke sana setiap kali aku membutuhkan sesuatu, seperti peralatan sekolah dan lain sebagainya. Karena letaknya berada di pusat kota, tempat toko-toko besar berjajar rapih, menjulang tinggi mencakar langit.
Hal yang membuatku anti untuk pergi ke sana hanyalah karena dia, dia Alex Miller. Siapa yang tidak tau bocah dungu itu? Aku membencinya. Semenjak ia terkenal setahun yang lalu, seluruh siaran berita dan surat kabar jadi membicarakannya. Padahal masalah-masalah dalam negeri lebih penting untuk di liput dari pada si lelaki penunggu persimpangan itu.
Dari yang kudengar, dia adalah mantan nara pidana yang di penjara karena menabrak seorang anak kecil di persimpangan itu 3 tahun yang lalu. Dan tepat setahun kemudian, anaknya meninggal karena kasus yang sama. Alex frustasi dan menganggap bahwa dirinya terkena karma, jadi sebagai wujud penyesalannya, ia selalu berdiri di sana memandang kosong ke arah jalan. Tempat terjadinya kecelakaan itu.
Dan aku membencinya karena banyak alasan; yang pertama, karena mendengar berita itu, aku tidak suka dengan orang-orang jahat yang dengan tega membunuh orang, terlebih lagi anak kecil. Yang kedua, berita tentangnya mengganggu setiap kali aku sedang menonton NBA di televisi, seperti selalu terpotong karena berita tidak penting tentangnya. Dan yang ketiga, karena aku pernah bertemu dengannya, waktu itu aku sedang mabuk berat dan orang bodoh itu menghalangi jalanku. Ketika aku membentaknya dengan kata-kata kasar, ia hanya tersenyum manis. Dan itu benar-benar membuatku gila.
Aku benci Alex Miller. Dan aku baru akan memaafkannya jika ia sudah tidak berada di persimpangan jalan itu. Sialnya, dia tidak pernah pergi.
4. Melani
Aku pernah melihat Alex Miller sedang berciuman dengan seorang gadis di persimpangan itu. Aku tidak sempat mengabadikannya karena ponselku mati. Tetapi saat aku menceritakannya, tidak ada yang percaya dengan ku selain Bea, tentu saja karena waktu itu aku sedang bersama Bea.
Dan untuk kedua kalinya aku juga melihat Alex Miller sedang berbicara dengan seorang gadis dengan tatapan penuh kebahagiaan. Bahkan gadis itu mengenakan gelang yang sama dengan punya Alex, seperti gelang couple. Dan yang kedua kalinya ini ada orang lain yang juga melihatnya, tetapi mengacuhkannya begitu saja, karena mengira gadis itu bukan kekasihnya. Buktinya, Alex tidak juga pergi dari sana sampai saat ini. Tapi aku bersumpah, itu adalah gadis yang sama dengan gadis yang mencium Alex pada malam itu. Tetapi kenapa tidak ada yang percaya?
Di kesempatan yang ketiga, aku berhasil memotret Alex yang sedang berciuman dengan gadis itu, Ya! Gadis yang sama. Wartawan langsung memburuku karena tau aku memiliki fotonya. Aku menawarkan Foto itu dengan sejumlah uang yang harganya lumayan. Dan terjual pada Ohio News sebesar 5000 dolar. Betapa beruntungnya aku saat itu.
Dan sejak saat itu aku terus mengambil gambar Alex dengan gadis yang sempat di ketahui bernama Alexa! Waw! Benar-benar nama yang serasi. Tetapi entah bagaimana mereka malah jadi sering mengumbar kemesraan di depan halayak, hingga foto-fotoku pun tak lagi di hargai. Para fotographer bisa memotret mereka sendiri tanpa bantuanku. Karena adegan bermesraan itu terus berulang hingga larut malam tanpa terusik.
Jadi aku memutuskan untuk tidak memperdulikan Alex, lelaki yang di beritakan di usir dari rumahnya karena menyusahkan kedua orang tuanya, dan yang ia lakukan hanya bermesraan dengan kekasihnya. Setidaknya itu yang ku tahu.
5. Kaelia
Outline skipsi
Nama : Kaelia Doughtes
Nomor : 13/55555/sp
Fakultas Ilmu sosial dan Ilmu politik
Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta
Judul penelitian : Pengaruh kriminalitas terhadap kehidupan remaja dan negara
Tidak ada yang lebih buruk dari memikirkan skripsi di tengah liburanku di kota kelahiranku sendiri, Ohio. Setelah lama menempuh pendidikan di indonesia, akhirnya aku kembali ke Ohio. Tidak banyak yang berubah di sini, atau mungkin aku yang berubah.
Kemarin saat sedang mencari buku-buku milik ayahku untuk membantuku menyusun skripsi. Tiba-tiba mataku terpaku pada selembar halaman surat kabar yang sudah sobek. Ayahku memang seorang redaksi surat kabar di Ohio. Dan biasanya ia menumpuk hasil kerja timnya di perpustakaan rumah. Alhasil ada saja kertas-kertas usang seperti ini yang memenuhi perpustakaan.
Ku ambil selembar kertas itu dan membacanya dengan sedikit kesulitan, karena beberapa kata hilang akibat sobekan-sobekannya yang entah berada di mana. Tapi tag-linenya masih utuh, terlihat jelas dengan tulisan yang sengaja di tulis dengan format Bold.
Alex Miller bersama kekasihnya Alexa Avegaf membunuh seorang gadis yang di duga sebagai pengganggu hubungan mereka. Tetapi keduanya lantas menyesali perbuatannya dan sering terlihat di persimpangan pusat kota, lokasi terakhir kali, Alex dan Alexa bertemu dengan gadis itu.
Aku menyipitkan mata merasa heran. Ada-ada saja kejadian seperti ini di Ohio. Atau mungkin memang banyak di dunia ini? Tetapi melihat berita itu, aku jadi mendapatkan ide untuk materi skripsiku.
Jadi kuputuskan hari ini untuk duduk di Depan Kafe yang berada di dekat tiang penunjuk arah itu, mengamati lelaki yang bernama Alex sedang menangis bersama kekasihnya Alexa di pelukannya, menandangi jalan itu terus menerus.
Pertanyaan Penelitian : Apa yang membuat mereka menyesali perbuatannya?
6. Fixy
Untuk yang ke sekian kalinya aku melihat Alex Miller di persimpangan jalan itu. Meski beritanya sudah tak lagi populer, aku masih saja mengidolakan sosok Alex Miller, seorang Pencopet yang memberikan hasil rampasannya untuk di sumbang ke panti asuhan dengan nama pengirim Anonimus. Kisahnya benar-benar mengingatkanku pada salah satu film kartun dengan tokoh heroik yang sama seperti Alex.
Aku pernah meminta tanda tangannya, yang sampai sekarang masih ku pajang di dinding kamarku. Dan aku sengaja membuat gelang yang sama dengan gelang Couple milik Alex! Meski ia sudah bukan lagi orang terkenal, tetapi aku masih sering mengunjungi persimpangan jalan hanya untuk melihat Alex.
Kudengar, panti asuhan yang selama ini ia sumbang, sudah menjadi panti asuhan yang besar dan berkecukupan, oleh sebab itu, Alex tidak lagi mempunyai pekerjaan. Yang di lakukannya hanya berdiri di persimpangan itu, tempat biasa ia mencopet.
Oiya, sekarang di samping Alex ada seorang gadis cantik berambut pirang bernama Alexa, dengar-dengar mereka kawin lari karena orang tua Alexa tak mengizinkan Alexa menikah dengan lelaki tukang copet seperti Alex. Tetapi memang dasar jodoh, kini mereka berdua pun hidup bersama dan sering berdiri bersama di persimpangan jalan sambil berciuman. Ya persimpangan jalan, tempat pertama kali mereka bertemu. Alexa adalah salah satu korban yang di copet oleh Alex, ternyata mereka berjodoh!
Benar-benar kisah yang menginspirasi, beruntungnya seorang Alexa mendapatkan Pria seperti Alex. Aku juga mau!
7. Tom
Aku masih suka heran dan menggeleng-gelengkan kepala setiap kali melihat Alex Miller dan Alexa Avegaf berdiri di persimpangan jalan pusat kota. Sebagai polisi lalulintas aku merasa gagal dengan khasua mr. Miller ini. Aku tau ia berkebangsaan Australia, tetapi yang sampai sekarang menganggu pikiranku hanyalah, mengapa mereka berdua selalu berdiri di sana, tanpa makan dan tanpa minum. Hanya bermesraan, kadang menangis, kadang tertawa seperti ada yang lucu.
Aku tau kalau mereka berdua anggota sirkus yang bangkrut dan akhirnya menjadi gelandangan yang tidak mempunyai rumah, sampai-sampai mereka tak pernah pergi dari persimpangan jalan itu. Tak lupa juga berita kalau Alexa Avegaf sebenarnya adalah laki-laki yang melakukan operasi pelastik menjadi wanita, hanya karena Alex adalah seorang Gay.
Hidup mereka terlalu rumit, terlalu menyedihkan. Tetapi mereka masih bisa berbahagia di jalanan. Di masa jayanya setahun yang lalu, aku ikut kecipratan untung. Aku masuk di media cetak dan televisi karena menjadi narasumber mereka.
Bahkan ada yang mengutarakan ide untuk membangun patung Alex dan Alexa di persimpangan jalan itu setelah mereka meninggal dunia. Dan kisah mereka mengisfirasi para Gay yang tak ingin di anggap 'Gay'. Jadi setiap pasangan Gay di Ohio, salah satunya akan melakukan operasi pelastik dan bertransformasi menjadi wanita jadi-jadian.
Karena kehidupan mereka yang syarat makna dan menginspirasi banyak orang, aku pun sampai tak tega mengusir mereka dari sana. Lagi pula, orang-orang melarangku untuk melakukannya.
Jadi yang sekarang kulakukan adalah melaksanakan tugasku tanpa memperdulikan mereka, anggap saja mereka sepasang patung Romeo dan Juliet.
8. Gilda
Stress! Lama-lama aku bisa terkena gangguan mental, tekanan batin dan berubah sinting. Mungkin seusai masalah ini, aku akan mengambil cuti atau bahkan mengundurkan diri, aku tidak sanggup lagi bekerja di rumah sakit mental, mentalku ikut-ikutan di grogoti.
Ini semua karena Alex Miller dan Alexa avegaf, pasienku yang kabur ke Ohio! Bayangkan mereka bisa kabur sejauh itu, dari rumah sakit mental di Australia! Mereka sinting! Dan sebentar lagi aku akan ikutan sinting!
Awalnya hanya Alex yang tiba-tiba menghilang dari rumah sakit mental itu, lalu beberapa hari kemudian Alexa yang selalu berperan menjadi kekasihnya ikut menghilang entah kemana. Mereka berdua hilang selama setahun dan aku yaris memotong urat nadiku sendiri, karena kalau sampai mereka tidak di ketemukan, aku akan di pecat.
Aku bersumpah kedua bola mataku hampir menggelinding keluar dari pelupuknya begitu aku membaca koran lama dari Ohio.
Pasien ku terkenal bahkan menjadi artis! 2 orang yang bahkan tidak mengerti 1 + 1 itu berapa, menjadi artis terkenal! Bayangkan! Namanya terpampang di semua koran dan televisi!
Entah orang dungu mana yang mempercayai berita simpang siur tentang mereka berdua. Kisah inspiratif atau apalah itu. Fuck! Mereka sinting!!! Tidak waras!! Gilaa!!
Bahkan mereka memuja-muja gelang yang di pakai mereka berdua! Tanpa tau kali Itu adalah gelang yang di pakai semua pasien di rumah sakit jiwa tempatku bekerja. Dan aku nyaris pingsan ketika mengetahui ada yang membuat gelang itu dan memperjual belikannya.
Setelah mendaratkan kedua kakiku di Ohio. Tanpa berlama-lama lagi, Aku langsung mendatangi persimpangan jalan itu, menjewer kedua telinga mereka. Mereka meringis kesakitan sambil bergelayut manja di tanganku seperti biasanya.
Seorang polisi langsung menghampiriku dengan wajah tidak mengenakan. Ingin rasanya aku melemparkan sesuatu ke wajahnya. "Maaf nyonya, apa yang terjadi di sini?" Tanyanya. Dan tepat ketika aku baru ingin menjawab, aku baru mengadari kalau orang-orang memandang ke arahku dengan sinis, bahkan mendekatiku.
"Aku hanya ingin membawa 2 pasienku pulang!" Bentaku kesal, aku lelah dan aku kesal setengah mati. Jadi jangan salahkan aku jika aku mengamuk.
"Pasien?" Sebelah alisnya terangkat seperti ragu dan bingung.
"Iya Sir, Mr. Miller dan Mrs. avegaf adalah pasienku. Pasien rumah sakit mentalku yang hilang selama setahun ini."
Aku tidak tau apa yang terjadi, tetapi sepertinya semua orang langsung jatuh pingsan begitu mendengar jawabku.
Dan aku tidak peduli, tugasku hanya mengantar mereka pulang! Ya, 2 orang sinting itu.
Thursday, February 19, 2015
Di hentikan
Gila.
Apa yang kalian pikirkan tentang satu kata itu? Orang-orang yang mendekam di rumah sakit jiwa? Orang-orang yang tidak punya pikiran? Atau bahkan orang yang telanjang di pinggir jalan? Entahlah. Aku menganggapnya gila. Si nenek tua yang mengenakan daster compang-camping yang kini di kerubuni orang-orang seperti tontonan gratis. Kalau kalian pikir nenek tua itu sedang beratraksi atau bersandiwara, kalian semua salah atau mungkin benar. Tidak ada yang tau mengapa nenek tua itu berada di tengah jalan dan berteriak. Ya.. Ia sedang berteriak-teriak seolah kerasukan mahluk halus. Berteriak seperti orang gila. Tapi aku menelan asumsi itu bulat-bulat, karena yang ia teriakan hanya satu hal yaitu ; "Berhenti!"
Awalnya ku kira ia hanya seorang nenek tua yang sedang meregang nyawa dan berteriak untuk meminta pertolongan. Tetapi semakin aku mendekati kerumunan itu, semakin jelas kalau yang ia teriakan adalah "Berhenti" bukan "Tolong". Lalu saat aku mengira ada yang sedang mengganggunya atau ingin menyakitinya, ternyata aku salah lagi. Semua orang, bahkan pedagang-pedagang asongan kaki lima di sana hanya memperhatikan tingkah nenek tua itu. Jadi sebenarnya ia kenapa? Gila?
Tiba-tiba saja nenek tua itu mendekati seorang tante dengan gincu semerah darah dan gelang-gelang emas di tangannya. Pakaian mininya membuatku menyimpulkan kalau ia adalah pekerja sex atau simpanan para pejabat bejat. "Berhenti!" Teriak nenek itu tepat di hadapan si tante. Tentu saja tante itu langsung terusik, ia lantas membuang muka sambil mendumal, "Dasar orang sinting."
Seperti tidak mendengar—lebih tepatnya tidak peduli—nenek itu lantas beralih pada Pria paruh baya yang kedua tangannya sibuk, yang kanan menggenggam tangan istrinya dan yang kiri menggenggam sebuah ponsel di telinga. "Berhenti!" Teriaknya lagi. Aku bisa melihat wajah kesal Pria itu. Berhenti apa? Berhenti menelpon? Kau pikir kau siapa? Kira-kira seperti itulah yang tersirat dari wajahnya.
Aku menggeleng sambil berdecak. Mungkin ia memang gila. Hanya orang gila yang mencari perhatian halayak ramai. Ini membuang waktu saja, jadi kuputuskan untuk beranjak pergi. Tetapi tiba-tiba saja nenek itu berlari ke arahku dengan wajah gusar, marah, kecewa, entahlah aku tak bisa menafsirkannya. Kupandangi dirinya, keriput dimana-mana, gigi palsu yang menguning seperti tak pernah di bersihkan, dan ia sama sekali tak memakai alas kaki. Nenek tua berteriak, "Berhenti!" Akupun mematung. Berhenti? Berhenti melangkah maksudnya? Berhenti agar aku tak pergi? Aku pun berdecak kesal ketika nenek tua itu berlari ke arah kerumunan di sebelah barat. Dia menarik seorang wanita berparas cantik, tubuh tinggi semampai, dan rambut hitam ikal panjang yang terlihat seperti model-model iklan shampoo. Aku iri sekali dengan rambutnya itu.
"Berhenti! Aaakhhh!" Nenek itu langsung mendorong si wanita cantik hingga tubuhnya menabrak seseorang di belakang dan tangannya yang berusaha mencari pegangan, justru mendorong samping kanan kirinya. Rambutnya copot, terjatuh ke tanah. Astaga! Dia botak! Itu hanya rambut palsu!
Seorang pelajar SMA yang masih mengenakan seragamnya terdorong tidak sengaja menyenggol bapak-bapak beristri tadi hingga telepon genggamnya terjatuh. Entah apa yang terjadi, hingga suara ponsel yang terjatuh tadi mengeras, sangat keras hingga aku dan yang lainnya bisa mendengar suara si penelpon.
"Sayang, apa yang terjadi sih?" Suara itu yang terdengar hingga membuat si bapak panik setengah mati. Istrinya langsung melayangkan tamparan kearah pipi suaminya dan berlari menerobos kerumunan di kejar bapak-bapak tadi setelah ia berdecak, "Keparat!". Seorang penjual minuman keliling sampai terdorong dan tidak sengaja menumpahkan dagangannya ke tangan tante berdempul tebal tadi, seluruh perhiasannya langsung luntur, warna emas berkilau tadi berubah jadi warna perak dan hitam.
"Maaf nyonya, maaf." Yang di mintai maaf langsung kabur menahan malu. Kini semua orang sibuk berbisik satu sama lain, membicarakan apa yang barusan terjadi. Peristiwa mengejutkan yang langsung membuat semua orang syok mendadak. Sementara aku membeku di tempat. Ku arahkan pandanganku kesekeliling. Tapi nenek tua tadi tak kelihatan batang hidungnya. Dia lenyap, menghilang seperti di telan bumi. Dan kini orang-orang pun memandang kearahku.
Apa? Ada apa denganku?
Apa yang kalian pikirkan tentang satu kata itu? Orang-orang yang mendekam di rumah sakit jiwa? Orang-orang yang tidak punya pikiran? Atau bahkan orang yang telanjang di pinggir jalan? Entahlah. Aku menganggapnya gila. Si nenek tua yang mengenakan daster compang-camping yang kini di kerubuni orang-orang seperti tontonan gratis. Kalau kalian pikir nenek tua itu sedang beratraksi atau bersandiwara, kalian semua salah atau mungkin benar. Tidak ada yang tau mengapa nenek tua itu berada di tengah jalan dan berteriak. Ya.. Ia sedang berteriak-teriak seolah kerasukan mahluk halus. Berteriak seperti orang gila. Tapi aku menelan asumsi itu bulat-bulat, karena yang ia teriakan hanya satu hal yaitu ; "Berhenti!"
Awalnya ku kira ia hanya seorang nenek tua yang sedang meregang nyawa dan berteriak untuk meminta pertolongan. Tetapi semakin aku mendekati kerumunan itu, semakin jelas kalau yang ia teriakan adalah "Berhenti" bukan "Tolong". Lalu saat aku mengira ada yang sedang mengganggunya atau ingin menyakitinya, ternyata aku salah lagi. Semua orang, bahkan pedagang-pedagang asongan kaki lima di sana hanya memperhatikan tingkah nenek tua itu. Jadi sebenarnya ia kenapa? Gila?
Tiba-tiba saja nenek tua itu mendekati seorang tante dengan gincu semerah darah dan gelang-gelang emas di tangannya. Pakaian mininya membuatku menyimpulkan kalau ia adalah pekerja sex atau simpanan para pejabat bejat. "Berhenti!" Teriak nenek itu tepat di hadapan si tante. Tentu saja tante itu langsung terusik, ia lantas membuang muka sambil mendumal, "Dasar orang sinting."
Seperti tidak mendengar—lebih tepatnya tidak peduli—nenek itu lantas beralih pada Pria paruh baya yang kedua tangannya sibuk, yang kanan menggenggam tangan istrinya dan yang kiri menggenggam sebuah ponsel di telinga. "Berhenti!" Teriaknya lagi. Aku bisa melihat wajah kesal Pria itu. Berhenti apa? Berhenti menelpon? Kau pikir kau siapa? Kira-kira seperti itulah yang tersirat dari wajahnya.
Aku menggeleng sambil berdecak. Mungkin ia memang gila. Hanya orang gila yang mencari perhatian halayak ramai. Ini membuang waktu saja, jadi kuputuskan untuk beranjak pergi. Tetapi tiba-tiba saja nenek itu berlari ke arahku dengan wajah gusar, marah, kecewa, entahlah aku tak bisa menafsirkannya. Kupandangi dirinya, keriput dimana-mana, gigi palsu yang menguning seperti tak pernah di bersihkan, dan ia sama sekali tak memakai alas kaki. Nenek tua berteriak, "Berhenti!" Akupun mematung. Berhenti? Berhenti melangkah maksudnya? Berhenti agar aku tak pergi? Aku pun berdecak kesal ketika nenek tua itu berlari ke arah kerumunan di sebelah barat. Dia menarik seorang wanita berparas cantik, tubuh tinggi semampai, dan rambut hitam ikal panjang yang terlihat seperti model-model iklan shampoo. Aku iri sekali dengan rambutnya itu.
"Berhenti! Aaakhhh!" Nenek itu langsung mendorong si wanita cantik hingga tubuhnya menabrak seseorang di belakang dan tangannya yang berusaha mencari pegangan, justru mendorong samping kanan kirinya. Rambutnya copot, terjatuh ke tanah. Astaga! Dia botak! Itu hanya rambut palsu!
Seorang pelajar SMA yang masih mengenakan seragamnya terdorong tidak sengaja menyenggol bapak-bapak beristri tadi hingga telepon genggamnya terjatuh. Entah apa yang terjadi, hingga suara ponsel yang terjatuh tadi mengeras, sangat keras hingga aku dan yang lainnya bisa mendengar suara si penelpon.
"Sayang, apa yang terjadi sih?" Suara itu yang terdengar hingga membuat si bapak panik setengah mati. Istrinya langsung melayangkan tamparan kearah pipi suaminya dan berlari menerobos kerumunan di kejar bapak-bapak tadi setelah ia berdecak, "Keparat!". Seorang penjual minuman keliling sampai terdorong dan tidak sengaja menumpahkan dagangannya ke tangan tante berdempul tebal tadi, seluruh perhiasannya langsung luntur, warna emas berkilau tadi berubah jadi warna perak dan hitam.
"Maaf nyonya, maaf." Yang di mintai maaf langsung kabur menahan malu. Kini semua orang sibuk berbisik satu sama lain, membicarakan apa yang barusan terjadi. Peristiwa mengejutkan yang langsung membuat semua orang syok mendadak. Sementara aku membeku di tempat. Ku arahkan pandanganku kesekeliling. Tapi nenek tua tadi tak kelihatan batang hidungnya. Dia lenyap, menghilang seperti di telan bumi. Dan kini orang-orang pun memandang kearahku.
Apa? Ada apa denganku?
Saturday, February 14, 2015
Mau menjadi sinting?
Aku tau ada hal yang lebih gila dari meminum pembunuh hama atau menyayat urat nadimu sendiri dengan pisau. Atau juga berbaring di atas rel kereta ketika sebentar lagi Kereta akan melintas. Aku tau, kalian tau, kita semua tau. Dan aku benci dengan hal itu. Karena semua orang membicarakannya, memujanya bagaikan tuhan. Mengangung-angungkannya seolah hal itu tak bisa membunuh. Padahal ia bisa! Bisa! Percayalah padaku. Bahkan efek sampingnya lebih dasyat dari narkoba. Ya, walaupun aku sendiri belum pernah mencoba barang haram itu. Tapi aku pernah mencoba yang satu itu, iya yang itu!
Sini.. Sini.. Biarku beritahu. Saat kau mencicipinya. Kau akan merasa seperti melayang ke langit ke 7—eh mungkin ke langit ke 10, pokoknya tinggi sekali. Lalu kau akan berhenti melayang, lalu menari-nari di atas gumpalan awan. Banyak burung-burung, bahkan kau mungkin melihat malaikat seperti sudah berada di alam lain. Et! Tapi tunggu dulu, aku tau setelah kau mendengar penuturanku itu kau malah terbuai, ingin mencoba? Hahaha, kalau kau berotak ku sarankan jangan! Apalagi kalau kau tak punya nyali. Kau tau narkoba? Ini lebih paran dari itu! Coba garis bawahi kalimatku tadi. Lalu camkan baik-baik di dalam benak mu. Lagi pula aku belum selesai berbicara! Tahan napsumu itu.
Biar ku lanjutkan. Setelah kau melihat malaikat-malaikat itu. Kau akan di bawa terbang lebih jauh lagi, mungkin kau akan melewati syurga. Kau bisa menyapa warga di sana. Apa? Gila? Ini tidak gila! Aku sudah pernah merasakannya. Apa? Mati? Tidakk! Aku belum pernah mati. Tadi kan kubilang "seperti", ya aku tau perandaianku buruk. Tapi kurang-lebihnya begitulah yang kurasakan saat itu. Oke.. Biar kulanjutkan. Setelah aku merasakan berada di angkasa luas, lalu tiba-tiba tubuhku terhempas jatuh. Terjun bebas mengikuti grafitasi. Aku merentangkan tanganku merasa bebas. Dan saat ku kira aku akan melayang lagi. Dugaanku justru meleset! Tololnya tak ada yang bisa kulakukan selain pasrah.
Tubuhku bergetar takut, tapi percuma aku tak bisa melakukan apapun selain berharap akan terbang—atau paling tidak tersangkut di awan—tapi yang kulakukan hanya terus turun.. Dengan kecepatan yang, entahlah. Aku tidak punya waktu untuk mengitung berapa Km/jam aku terjun. Yang pasti saat itu aku takut! Aku takut mati! Aku takut sekali! Apa? Minta tolong? Minta tolong malaikat menjemputku maksudmu? Tak ada seorangpun di situ, hanya aku. Ya.. Aku sendirian. Burung-burung tadi bahkan menghilang entah kemana. Detik itu juga aku tau kalau aku akan mati. Dengan segala kepasrahan di benaku tubuhku menghantam tanah dengan sangat kencang. Kretak! Itu suara hatiku yang patah. Aku bisa melihat kepingannya tersebar luas keluar dari dalam ragaku.
Lalu apa yang kurasakan? Aku merasa bodoh! Tolol! Sinting! Aku terbuai terlalu tinggi hingga lupa tempat berpijak. Aku terlalu banyak makan omong kosong hingga perutku di penuhi angin yang akhirnya menerbangkanku tinggi. Terlalu banyak juga memakai hati, hingga saat mendarat hatiku hancur lebur. Kalau ada yang tanya apa aku baik-baik saja? Aku akan menjawab, "apa kalian buta?" Aku jatuh dari ketinggian yang entah seberapa tingginya, dan aku baik-baik saja? Ingatkan aku untuk mendoakan kesehatan mata kalian itu. Karena aku tidak baik-baik saja! Aku marah! Kecewa! Merutuki nasipku karena kebodohanku sendiri. Tolol!!!
Sekarang apa masih ada yang ingin mencoba? Ingin merasakan bagaimana yang kurasakan? Ingin menjadi orang sinting? Jangan! Kubilang jangan! Jangan pernah bermain-main dengan itu. Pokoknya jangan!
Aku benci dengan CINTA, apalagi orang-orang yang bermain-main dengannya. Kalian hina! Tolol! Aakkkhhh!!!
Sini.. Sini.. Biarku beritahu. Saat kau mencicipinya. Kau akan merasa seperti melayang ke langit ke 7—eh mungkin ke langit ke 10, pokoknya tinggi sekali. Lalu kau akan berhenti melayang, lalu menari-nari di atas gumpalan awan. Banyak burung-burung, bahkan kau mungkin melihat malaikat seperti sudah berada di alam lain. Et! Tapi tunggu dulu, aku tau setelah kau mendengar penuturanku itu kau malah terbuai, ingin mencoba? Hahaha, kalau kau berotak ku sarankan jangan! Apalagi kalau kau tak punya nyali. Kau tau narkoba? Ini lebih paran dari itu! Coba garis bawahi kalimatku tadi. Lalu camkan baik-baik di dalam benak mu. Lagi pula aku belum selesai berbicara! Tahan napsumu itu.
Biar ku lanjutkan. Setelah kau melihat malaikat-malaikat itu. Kau akan di bawa terbang lebih jauh lagi, mungkin kau akan melewati syurga. Kau bisa menyapa warga di sana. Apa? Gila? Ini tidak gila! Aku sudah pernah merasakannya. Apa? Mati? Tidakk! Aku belum pernah mati. Tadi kan kubilang "seperti", ya aku tau perandaianku buruk. Tapi kurang-lebihnya begitulah yang kurasakan saat itu. Oke.. Biar kulanjutkan. Setelah aku merasakan berada di angkasa luas, lalu tiba-tiba tubuhku terhempas jatuh. Terjun bebas mengikuti grafitasi. Aku merentangkan tanganku merasa bebas. Dan saat ku kira aku akan melayang lagi. Dugaanku justru meleset! Tololnya tak ada yang bisa kulakukan selain pasrah.
Tubuhku bergetar takut, tapi percuma aku tak bisa melakukan apapun selain berharap akan terbang—atau paling tidak tersangkut di awan—tapi yang kulakukan hanya terus turun.. Dengan kecepatan yang, entahlah. Aku tidak punya waktu untuk mengitung berapa Km/jam aku terjun. Yang pasti saat itu aku takut! Aku takut mati! Aku takut sekali! Apa? Minta tolong? Minta tolong malaikat menjemputku maksudmu? Tak ada seorangpun di situ, hanya aku. Ya.. Aku sendirian. Burung-burung tadi bahkan menghilang entah kemana. Detik itu juga aku tau kalau aku akan mati. Dengan segala kepasrahan di benaku tubuhku menghantam tanah dengan sangat kencang. Kretak! Itu suara hatiku yang patah. Aku bisa melihat kepingannya tersebar luas keluar dari dalam ragaku.
Lalu apa yang kurasakan? Aku merasa bodoh! Tolol! Sinting! Aku terbuai terlalu tinggi hingga lupa tempat berpijak. Aku terlalu banyak makan omong kosong hingga perutku di penuhi angin yang akhirnya menerbangkanku tinggi. Terlalu banyak juga memakai hati, hingga saat mendarat hatiku hancur lebur. Kalau ada yang tanya apa aku baik-baik saja? Aku akan menjawab, "apa kalian buta?" Aku jatuh dari ketinggian yang entah seberapa tingginya, dan aku baik-baik saja? Ingatkan aku untuk mendoakan kesehatan mata kalian itu. Karena aku tidak baik-baik saja! Aku marah! Kecewa! Merutuki nasipku karena kebodohanku sendiri. Tolol!!!
Sekarang apa masih ada yang ingin mencoba? Ingin merasakan bagaimana yang kurasakan? Ingin menjadi orang sinting? Jangan! Kubilang jangan! Jangan pernah bermain-main dengan itu. Pokoknya jangan!
Aku benci dengan CINTA, apalagi orang-orang yang bermain-main dengannya. Kalian hina! Tolol! Aakkkhhh!!!
Subscribe to:
Posts (Atom)

