Wednesday, January 7, 2015

akhir penantian

Aku kembali menapaki jalan ini
Jalan berlubang pembuat pilu
Ini lembar terakhir dari kisah menunggu
Mungkin kan kubiarkan air mataku berhenti sejenak
Kan kubiarkan juga hembusan angin membasuh luka
Biarlah, biarlah langkah ini tak berujung
Dan biarlah rindu menjadi satu-satunya saksi.
Bagaimana aku lelah menunggu.

Tuesday, September 30, 2014

Sampai saatnya aku menemukan nama lain. Sampai akhirnya aku bisa melenyapkan--paling tidak namamu. Kamu akan tetap berada di sini. Di dua tempat yang istimewa; hati dan pikiranku.

Berbeda (lagi)

Inilah kita, yang sepakat kalau kita sudah di pertemukan oleh 'Tuhan' dan yakin akan baik-baik saja. Kita yang sering menertawakan orang-orang yang bernasib sama, namun tidak mau saling mempertahankan. Kita juga yang 'masa bodo' dengan apa kata orang dengan hubungan ini.

Aku masih ingat di hari itu. Kita duduk di warung kecil yang berada di samping greja. Kita melihat seorang wanita yang keluar dari dalam tempat beribadah umat nasrani itu, yang tak berapa lama kemudian keluar juga seorang laki-laki dari dalam masjid yang berada tepat di hadapan greja.

Mata kedua sejoli itu merah, pipinya basah karena air mata. Seperti tau kelanjutannya, Dika menoleh kearahku dan berbisik, "pasti mau putus haha, atau malah udah putus."

Sama seperti Dika, aku juga sempat berpikiran seperti itu. Sudah biasa, terlalu biasa.

Kita melihat sang laki-laki memeluk wanitanya. Terlihat begitu erat di iringi dengan derai air mata. Lalu mereka meninggalkan tempat itu dengan jalan yang berbeda--si perempuan masuk ke dalam mobil berwarna merah yang terparkir di depan greja dan si laki-laki kembali ke masjid.

Aku dan Dika pun tertawa. Tidak ada yang lucu? Aku tau. Tapi rasanya lucu saja, berpisah hanya karena agama yang berbeda. Sebegitu mudahkah? Sebegitu sulitkan mempertahankan semuanya? Toh, mereka juga sama-sama tau, kalau 'Tuhan' yang sudah mempertemukan mereka.

Tapi... Itu dulu.
Kini Aku dan Dika justru menangis. Mematung di hadapan orang tuaku yang membentak dengan segala hal yang bersinggungan dengan 'Tuhan'.

Kalau sudah begini, siapa yang salah? 'Tuhan'? Ini terlalu bodoh jika kita harus menyalahkan sang maha pemberi rasa. Lalu siapa yang salah?

Lalu aku menatap tidak percaya pada Dika yang mengatakan kalau ia menyerah. Sekarang apa yang harus kulakukan terlebih dahulu? Marah dulu, atau tertawa dulu?

Kita yang sudah yakin tidak akan bernasip sama dengan mereka-mereka yang menyerah, tapi justru, kini kitalah yang menyerah. Aku ingin tertawa, tapi justru air mataku mendesak keluar.

Sudah? Begini saja?
Setelah 6 tahun bertahan, setelah 6 tahun melalui segala perbedaan bersama-sama. Dan sekarang? Sudah begini saja? Hanya seperti ini?

Aku mengantar Dika ke depan rumah. Wajahnya sama kacaunya denganku. Aku bisu, Dika lebih bisu.

Setelah berpelukan, pelukan perpisahan, pelukan yang kemungkinan adalah pelukan terakhir kita. Dika pergi, menaiki motornya, menyisakan asap yang justru membuat hatiku terasa perih.

Dan dia pergi.

Sekarang siapa yang tertawa?

Sunday, September 28, 2014

Kalau kau baik-baik saja

Hai!
Ini seperti sudah jutaan hai ku ucapkan dan tak pernah terbalaskan.
Rindu!
Ini juga sudah jutaan rindu yang ku ucapkan dan tak pernah terbalaskan.
Cinta!
Sudahlah, kata "hai" dan "rindu" saja tak pernah terbalaskan. Apa lagi cinta?

Ahh! Sudah berapa lama kita tidak bertemu?
Sudah berapa lama kita tidak bertatap muka?
Sudah berapa lama kita tidak saling sapa?
Sudah berapa lama aku memendam semuanya?

Jika kau baik-baik saja, aku ingin bertemu. Aku ingin menceritakan semuanya tentangku, dunia baruku dan juga mendengar punyamu.

Jika kau baik-baik saja, aku ingin kembali berteman. Aku tidak akan mengharapkan lebih, karena kutau itu mustahil.

Jika kau baik-baik saja, jika kau benar-benar baik-baik saja, berarti kekasih mu telah melakukannya dengan baik; menjagamu.

Wednesday, September 17, 2014

hai dan bye

hai
hallo
hai yang disana
hai yang disana, yang beberapa hari yang lalu menyuguhiku senyuman manis.
hai yang di sana, yang beberapa hari yang lalu memandangi mataku tanpa arti.
hai yang di sana, yang kemarin merayuku dengan rayuan palsu.
hai yang di sana, yang baru saja memanggil namaku tanpa gairah.
hai yang di sana, yang baru saja berbicara denganku.
hai yang di sana, yang baru saja memasuki hatiku tanpa permisi.
hai yang di sana, yang ternyata menyukai temanku.
hai yang di sana, yang mungkin sedang bahagia bersama temanku.
hai yang di sana, yang sudah mematahkam hatiku.
hai yang disana
hai kakak
hai hai hai hai
hai hai hai
hai hai
hai dan selamat tinggal
selamat tinggal
selamat tinggal
selamat tinggal
bye

Sunday, September 7, 2014

Menunggu

aku memperhatikan sepasang sepatu converse--sudah buluk--milikku. hal ini bukan karena aku memang ingin memandangi sepatuku, tetapi karena aku menghindarimu. aku mencegah kalau perlu mengutuk mataku agar tidak melihat manik matamu. lagi pula mengapa 'dia'--kamu-- bisa ada di sini? dalam tundukan kepalaku, akhirnya aku melihat sepasang sepatu yang mendekat, benar-benar dekat. aku bisa memperkirakan, jika aku menengadah pasti wajahku dan seseorang ini akan berada sangat dekat. oleh karenanya aku mempertahankan posisiku.

ramai orang-orang berjalan di samping kanan dan kiriku, aku tak tau apa mereka memandangku saat ini. aku tidak tau dan tak mau tau. hmm.. aku menghembuskan napas, leherku ini rasanya pegal sekali, tetapi sepasang sepatu berwarna merah itu tak juga sirnah. tak juga bersuara. apa dia menungguku mendongak? atau memang sengaja menghalangi jalanku?

"hei kau, bisa ke sini sebentar!" teriak seseoranh, entah siapa dari arah belakangku.

tiba-tiba sepasang sepatu merah itu bergerak. ah akhirnya...

"tunggu aku." suara sialan itu tiba-tiba terdengar di telinga kananku, berbisik dengan senyuman. rasanya aku ingin pingsan saja.

'dia' si pemakai sepatu merah menyuruhku menunggunya, setelahh lebih dari 3 tahun aku sudah melakukannya. menunggunya tanpa kabar, menunggunya tanpa berpaling, menunggunya dengan rasa yang selalu sama. sekarang setelah segala penantianku, kau menyuruhku menanti lagi. seenaknya saja!

tapi.....

tubuhku tetap mematung, tubuhku menolak untuk di gerakan. hanya satu yang kurasa bergerak, yaitu air mataku.

Friday, August 8, 2014

Berbagi cerita ( Re : curhat )

Hai hai.. Bosen juga selama beberapa hari ini gue ngurusin novel mulu. Udah keterima penerbit ting? Yap.. belom sama sekali hahaha malahan beberapa hari yang lalu baru aja di tolak, sedih ya.. hiks. makanya sekarang gue lagi sibuk bikin novel baru, yang kali-kali aja keterima penerbit haha

Oke, jadi setelah bosen nulis baku dan berkutat dengan KBBI. Akhirnya di malam yang tenang ini saya pengen curhat lagi. Curhat mulu ting. Haha iya emang saya tukang curhat, tapi sebenernya loh ya. Nanti kalo someday kita udah jadi "Seseorang" pastinya curhatan-curhatan di media yang gak akan hilang ini, bakalan jadi sesuatu yg buat kita bangga. pastinya bakalan ngingetin kita, kalo kita dulu tuh bukan apa-apa, perjuangannya kaya gimana. Yakin deh, suatu hari nanti. lo semua bakalan nangis kalo udah baca curhatan tentang perjuangan lo menuju sukses. so, buruan bikin blog kaya gue (?)

Waktu itu kan udah cerita tentang tulis menulis.sekarang gue mau cerita tentang cita-cita utama gue. SUTRADARA, udah keliatan belom tuh? biar keliatan gue bold deh ya, SUTRADARA.
Udah ting, udah cukup. Oke deh :D

Gak cuma jadi penulis yang perjuangannya abis-abisan banget. Mau jadi sutradara lebih susah, perjuangannya lebih bercucuran air mata. Lebay? enggak ko, sumpah banget tiap kali inget tentang sutradara, gue selalu nangis. Tapi kali ini gak mau nangis ah, udah malem haha (Apa pula hubungannya-_-)

Yaudah nih ya gue ceritain, semoga gak bosen dengerin curhatan gue ya.
Jadi gini, dari dulu gue selalu bilang kalo gue pengen jadi Dokter. Tapi kepengennya gue jadi dokter, cuma kaya sekedar, ngikutin orang. Ya kaya gini deh, coba tanya anak kecil; "Kalo gede kamu mau jadi apa", pasti jawaban mereka kalo gak dokter ya polisi (Ini kebanyakan ya, bukan berarti semuanya). Nah begitu pula dengan gue dulu.

Tapi pas kelas 3 SMP, tiba-tiba gue pengen jadi sutradara. Gue lupa kenapanya, Mungkin karena sering nonton waktu zaman itu. Nah, gue akhirnya bilang sama nyokap gue (Karena kebetulan bokap lagi di jepang waktu itu). Dan nyokap dukung ternyata. Seneng banget gue waktu itu, sampe nyokap mau daftarin gue di broadcasting Cakra buana. but then, gak jadi karena gak boleh masuk sekolah-sekolah kejuruan gitu sama bokap. Yaudahlah, karena waktu itu gue belom kepengen-pengen banget jadi sutradara, akhirnya gue nurut.

Tadinya gue kira, cita-cita gue ini cuma asal kepengen doang. Soalnya gue orangnya emang labil, bosenan gitu. Gue dulu sempet pengen jadi sastrawan, pengen jadi model, sampe pengen jadi penata rias. tapi semua kepengen-kepengenan itu ilang. Dan yang tersisa cuma SUTRADARA. Mulai sedih kawan-kawan hahaha :')

Akhirnya, awal-awal kelas 2 gue mulai nyari-nyari tempat kuliah yang ada broadcastingnya. Dulu gue ngiranya sama, antara Broadcasting sama sutradara. Tapi beda kan ya? eh gak tau deng haha. Dulu waktu orang-orang belom mikirin banget tentang kuliah, gue udah tau mau kuliah di mana, jurusannya apa, dan biaya kuliahnya berapa. Dan itu di IKJ jurusan FFTV. begitu tau, langsung ngena banget di hati*tsahh.

Terus, gue bilang deh sama nyokap (Waktu itu bokap lagi di singapur, bokap gue pelayaran, jadi jarang di rumah) dan tiba-tiba aja nyokap gak setuju, terus ngetawain gue. Gue inget nyokap ngomong apa, karena sampe sekarang nyokap masih sering bilang begini; "Kalo jadi sutradara itu harus bisa ngatur orang lain. lah kamu? ngatur hidup sendiri aja gak bisa, apa lagi orang lain." Dan gue? ya gue sedihlah dengernya secara waktu itu gue lagi antusias banget. Gue pun bantah dengan segala macam perkataan, tapi nyokap juga punya jawaban sendiri yang bisa bikin gue akhirnya diam.

Dan jawaban itu adalah bokap. Bokap yang dari dulu jarang ada buat gue, dan gak ngertiin gue, dia gak ngebolehin gue jadi sutradara. Dan gue jadi yang kaya benci banget sama bokap (Haha jahat ya gue, tapi sekarang gak gitu ko )

Doi gak pernah ngasih gue alasan kenapa dia gak suka, tapi dia ngelarang gue dalam garis keras. keras banget parah. and then, gue jadi males sekolah haha. inilah cikal bakal gue sering tidur di kelas, gak merhatiin guru, sabodo banget sama pelajaran, sama nilai dan lain sebagainnya. maksud gue ya biar nilai gue jelek dan gak bisa masuk kedokteran haha cause my parents really really want me to be a doctor. like a shit :)

dan nilai gue turun banget haha, bayangin aja matematika dari yang 90 jadi 77, kurang bego apa lagi coba? haha. kelakuan gue terus begitu sampe kelas 3. malahan di awal-awal kelas 3 gue jarang masuk, ada aja alesannya. sampe yang paling absurd, gara-gara gak ada celana dalem hahaha padahalmah ada, tapi gue gak mau make, maunya yang sering di pake. tolol banget ya hahaha.

makin ke sananya, gue mulai rajin belajar, gara-gara takut gak lulus. guru-guru entah bagaimana selalu ngingetin like a billions times, kalo UN dapet nilai 4 bakalan gak lulus. Dan gue akhirnya takut, banget malah. kalo gak lulus, boro-boro bisa masuk IKJ, yang ada bisa malu, di omelin plusplus ngulang kelas 3. Gak! gak! gue gak mau. Akhirnya gue mulai rajin gitu di tempat les (Walaupun gak rajin-rajin amat sih), di kelas dengerin guru, kalo ada yang gak ngerti nanya ke yang pinter. tapi kebiasaan gue tidur di kelas gak bisa ilang :( terlebih lagi gue emang kalo tidur selalu malem, and class is a good place for sleep. Then, gue masih sering tidur di kelas. terutama pelajaran Bahasa, Agama sama Pkn. sumpah demi apapun ya, itu pelajaran kaya dongeng haha.

Sampe pada akhirnya, UN selesai. UAS juga selesai. beban ilang semua. eh enggak semua sih, masih ada pikiran ke kuliah. Mau kuliah di mana gue dengan nilai sebergelombang itu? haha. Gue gak pede banget soal SNMPTN, dan males banget ikut SBMPTN, cause tujuan awal gue emang mau di IKJ yang statusnya swasta. But di sisi lain gue cinta mati sama kota Jogja, akhirnya gue juga pengen kuliah di UGM, serah deh jurusannya apa, yang penting di UGM haha. Dan waktu itu gue milihnya (Buat SNM) kehutanan UGM.

gue pun sempet cerita-cerita sama nyokap, enaknya fakultas apa gitu. Terus nyokap cuma jawab, "Ya terserah kamu, kan kamu yang mau kuliah." dan setelah gue jawab, sutradara, Nyokap langsung gak ngizinin. Padahal tadi katanya terserah :'). Sebenernya gue udah hopeless banget sama sutradara dari sebelom UN, karena sampe gue nangis-nangis pun di depan orang tua (Saat itu bokap udah balik) mereka tetep aja gak ngizinin, gue malah di omelin. sedih ya :')

Akhirnya, gue yang lagi suka-sukanya nulis waktu itu. pengen banget novel gue cepet-cepet terbit, bukan karena pengen terkenal atau apa, Melainkan karena ngincer uangnya buat kuliah di IKJ, jadi gak usah nunggu persetujuan ortu, gue udah bisa kuliah pake duit sendiri. gila, sedih banget ya kalo di pikir-pikir haha. Tapi tuhan berkata lain, novel gue gak di terima-terima (Bahkan sampe sekarang). Yang artinya gue gak bisa ngewujudin cita-cita gue buat jadi sutradara. Sampe gue ngepost foto gambar gedung Fakultas Film dan Televisi IKJ, di instagram (Btw, instagram gue @dewirtha) yang captionnya, "Gak dapet tahun ini, masih ada tahun-tahun berikutnya."

Yap.. gue bakalan coba terus.

Dan karena itu juga, gue jadi niat nulis (selain gue emang pengen jadi penulis) dan pengen banget kerja buat ngumpulin duit. Tapi gue bingung, ijasah SMA doang (malah sekarang belom keluar katanya), gue gak punya keahlian selain nulis novel (Itu juga di tolak mulu). Ya pokoknya, belom nemu lowongan dan kerjaan yang pas sama gue.

Btw, gue udah jadi mahasiswi di Universitas pancasila, fakultas ekonomi manajemen. Tapi gak pernah gue cantumin di bio, bukan apa-apa ya, ini karena manajemen bukan cita-cita gue (Sama sekali). Ini juga salah satu kemauan nyokap gue. Ko nurut ting? lo pikir gue bisa apa lagi selain nurut?:'). Sebenernya ortu juga gak pengen-pengen banget gue masuk situ, cuma karena gue gak ada gairahnya banget buat kuliah. boro-boro nyari kuliah, SBMPTN sama UM aja gak ada satupun yang gue ikutin. jadi yaudah deh, langsung di masukin ke UP.

tadinya gue kepikiran, buat sering-sering bolos. Sebagai bentuk pemberontakan gue selanjutnya (Yang pertama itu pas gue males-malesan sekolah dulu di SMA). tapi sekarang, setelah gue pikir-pikir. Kalo misalnya gue bolos, nanti gue gak lulus-lulus gimana? kapan masuk IKJnya dong? Yap, lulus dari UP, InsyaAllah gue mau ngambil S1 lagi di IKJ, doain ya :). Dan lagian, kalo nilai gue bagus, siapa tau aja bisa dapet kerja. jadi gue bisa ngumpulin uang buat masuk IKJ.

Ya.. gue gak tau sih kedepannya bakalan kaya gimana, mulai kuliah aja belom, udah banyak banget yang pengen di lakuin haha. Yang pasti gue bakalan terus berdoa dan usaha buat bisa ngewujudin cita-cita gue. gue juga lagi nyari club-club pecinta film, yang siapa tau aja bisa ngasih gue pelajaran sebelum akhirnya bener-bener belajar di IKJ.

jadi, pelajaran yang bisa gue ambil di sini, yang semoga aja lo semua bisa ambil juga. Jangan nyerah! Apa lagi lo bener-bener mau ngewujudin cita-cita lo. dan buat yang udah bisa kuliah di kampus yang lo cita-citakan, bersyukurlah wahai kalian sekalian. Jangan males kuliahnya apa lagi sampe bolos-bolosan segala. karena masih banyak orang-orang (Termasuk gue) yang belom bisa jadi kaya kalian, bisa ngewujudin impian. entah karena materi, karena dilarang orang tua, atau emang karena belom keterima-keterima di kampus yang di inginkan.

dan bagi yang belom bisa ngewujudin, mari berjuang bareng gue*tsahhh. jangan nyerah juga, semua ada jalannya. kalo lo emang sungguh-sungguh, pasti di kasih jalan sama yang Di Atas. Walaupun gue juga belom bisa ngewujudin impian gue, tapi gue yakin ko, someday i will. Gue percaya sama Allah, dia gak tidur, dia liat perjuangan gue, dia pasti bantuin gue. Doain saya ya, semoga semuanya bisa jadi kenyataan :).

oke, mungkin sudah dulu edisi curhat malam ini. dan saya akan tutup dengan quotes-quotes di bawah ini. Tetap semangat ya semuanya!!! :)