Untukmu pengganggu mimpiku,
Hai, apa kabar? Aku yakin kau baik-baik saja. Aku ingin bercerita sedikit tentang diriku, tentang hatiku, dan tentang kamu.
Aku adalah samar.
Samar?
Pantaskah aku menjadi "samar", tetapi cintaku terlihat begitu nyata?
Kamu adalah nyata.
Nyata?
Pantaskah kau ku sebut "nyata", padahal untuk menyentuhmu saja aku tak bisa.
Aku pasti bisa.
Bisa?
Pantaskah aku berkata "bisa", jika aku saja tak bisa bersamamu.
Aku akan bersamamu.
Bersamamu?
Hanya kamu yang dapat menjawabnya.
Jadi, apa aku bisa bersamamu?
Dari : seseorang yang mencintaimu dalam diam
Friday, February 14, 2014
Wednesday, January 1, 2014
Bangkit
Tak ada guna kita berduka kawan, mengenang masa lalu yang tentunya takkan terulang.
Tak ada gunanya kita menangis kawan, mengenang kesalahan-kesalahan kita terdahulu
Angkat kedua tanganmu, sebutlah nama-Nya, sang maha pencipta, maha Agung, maha segalanya
Renungkan apa yang harus kita lakukan, dan lakukanlah
Masa Depan mulai terbuka, cakrawala menunggu bayi suci itu melihat kenistaan
Jangan pernah takut kawan, Beliau selalu merangkul kita
Menengadahlah ke langit sana, lihat ke keagungan ciptaannya
Hanya di bawah sinilah kita berada, di negara nista lautan dosa
Sang penguasa sedang tersenyum melihat kita melangkah, tapi Ia ragu kemana haluan kita
Bukan orang tua yang menuntun arah mata angin kita, tapi jiwa dan hati bayi suci itu sendiri
Bangun! Tinggalkan sejenak rasa sayang pada kampung halaman
Dunia baru telah menunggu.. Sampaikan salamku untuk lautan dosa itu
Kelak kita akan menjadi bayi suci itu lagi..
Tak ada gunanya kita menangis kawan, mengenang kesalahan-kesalahan kita terdahulu
Angkat kedua tanganmu, sebutlah nama-Nya, sang maha pencipta, maha Agung, maha segalanya
Renungkan apa yang harus kita lakukan, dan lakukanlah
Masa Depan mulai terbuka, cakrawala menunggu bayi suci itu melihat kenistaan
Jangan pernah takut kawan, Beliau selalu merangkul kita
Menengadahlah ke langit sana, lihat ke keagungan ciptaannya
Hanya di bawah sinilah kita berada, di negara nista lautan dosa
Sang penguasa sedang tersenyum melihat kita melangkah, tapi Ia ragu kemana haluan kita
Bukan orang tua yang menuntun arah mata angin kita, tapi jiwa dan hati bayi suci itu sendiri
Bangun! Tinggalkan sejenak rasa sayang pada kampung halaman
Dunia baru telah menunggu.. Sampaikan salamku untuk lautan dosa itu
Kelak kita akan menjadi bayi suci itu lagi..
Sunday, December 22, 2013
kenapa kamu???
Hey kamu! Yaa.. Kamu! Kemal palevi!!
sial..! mengapa merindukanmu serasa hal yang wajib aku lakukan?
berkali-kali aku katakan, Aku mau! mau merasakan duka itu bersamamu, merasakan sakit itu asal bersamamu, menikmati hujan tanpa penghalang, memandangi bintang sampai leher ini sakit.. aku selalu mau.
selalu kamu.... kenapa?
dan selalu dia... kenapa?
lalu aku mencintaimu..... memangnya kenapa?
bukan aku, aku tau.. lalu kenapa?
lihat!! aku mampu terus mencintaimu, aku mampu terus tersenyum, aku mampu melihatmu dengannya. Lalu kenapa?? kenapa masih banyak yang bertanya?
aku sama bingungnya dengan mereka
kenapa kamu???
kenapa selalu kamu??
lalu kenapa jika aku mencintaimu??
aku sendiri tidak dapat menjawabnya..
Lalu kenapa jika aku ingin menunggumu?
TOH, AKU BERSEDIA MENUNGGUMU
Saturday, November 23, 2013
Perbedaan
sejak 5 menit yang lalu kita memang hanya duduk bersebelahan tanpa berpandangan ataupun berbicara. tetapi pertanyaanku yang ku lontarkan 1 menit yang lalu, nampaknya menambah perpanjangan waktu yang sunyi ini. dika masih saja memandangi langit yang kosong, tak ada 1 bintangpun di sana. bahkan bulanpun tak ada.
"kenapa tuhan memberikan berbagai warna pada pelangi?" pertanyaan yang sudah kulontarkan 1 menit yang lalu tak kunjung di jawab oleh dika. padahal aku bertanya untuk mengusir keheningan yang menjambangi kita sejak tadi tapi sepertinya tak berhasil.
"karena perbedaan itu indah." Jawab dika dengan wajah yang sangat serius
"Coba aja kamu lihat, apakah akan indah jika hanya ada 1 warna? Apakah akan semenarik itu jika hanya 1 warna saja?" Lanjutnya menjelaskan.
Aku memandangi wajahnya dengan tatapan tegar. Mungkin dika tau apa maksud pertanyaanku itu.
"Kalau perbedaan itu indah, mengapa semuanya terasa menyakitkan dik?"
Dika terdiam, cukup lama. Ia memandang ke arahku. Tepat ke arah mataku. Berbeda memang tak pernah ada salahnya, lalu apa yang salah? Kenapa semuanya terasa sangat menyakitkan?
"Karena ini baru awal den, tak akan ada pelangi sebelum ada hujan. Tak akan ada bintang sebelum langit menjadi gelap."
"Lalu kapan kisah ini berakhir bahagia?"
Dika terdiam lagi...
"Aku gak tau, tapi takdir tau. Jadi tanyakan saja pada takdir."
Aku tersenyum dan berhenti bertanya. Aku tak mau membuat Dika kebingungan lagi. Aku rasa semuanya jelas. Tidak pernah ada jawabannya "mengapa ini menyakitkan?." Tapi aku yakin, jika setelah hujan aja akan ada pelangi. Berarti setelah perjuangan ini pasti akan ada kebahagiaan.
Dika bangkit dari tempat duduknya, begitu juga aku. Kita berjalan ke arah utara dengan saling tersenyum dan bertatapan. Tangan Dika masih erat memegang tanganku. Hingga genggaman itu terlepas di ujung jalan. Dika melambaikan tangganya lalu berjalan menjauh, kalung Salib yang tergantung di lehernya berayun karena gerakan tubuh Dika. Sedangkan aku, sibuk merogoh tasku, mencari-cari tasbih dan bersiap untuk ibadah, sama seperti Dika.
"kenapa tuhan memberikan berbagai warna pada pelangi?" pertanyaan yang sudah kulontarkan 1 menit yang lalu tak kunjung di jawab oleh dika. padahal aku bertanya untuk mengusir keheningan yang menjambangi kita sejak tadi tapi sepertinya tak berhasil.
"karena perbedaan itu indah." Jawab dika dengan wajah yang sangat serius
"Coba aja kamu lihat, apakah akan indah jika hanya ada 1 warna? Apakah akan semenarik itu jika hanya 1 warna saja?" Lanjutnya menjelaskan.
Aku memandangi wajahnya dengan tatapan tegar. Mungkin dika tau apa maksud pertanyaanku itu.
"Kalau perbedaan itu indah, mengapa semuanya terasa menyakitkan dik?"
Dika terdiam, cukup lama. Ia memandang ke arahku. Tepat ke arah mataku. Berbeda memang tak pernah ada salahnya, lalu apa yang salah? Kenapa semuanya terasa sangat menyakitkan?
"Karena ini baru awal den, tak akan ada pelangi sebelum ada hujan. Tak akan ada bintang sebelum langit menjadi gelap."
"Lalu kapan kisah ini berakhir bahagia?"
Dika terdiam lagi...
"Aku gak tau, tapi takdir tau. Jadi tanyakan saja pada takdir."
Aku tersenyum dan berhenti bertanya. Aku tak mau membuat Dika kebingungan lagi. Aku rasa semuanya jelas. Tidak pernah ada jawabannya "mengapa ini menyakitkan?." Tapi aku yakin, jika setelah hujan aja akan ada pelangi. Berarti setelah perjuangan ini pasti akan ada kebahagiaan.
Dika bangkit dari tempat duduknya, begitu juga aku. Kita berjalan ke arah utara dengan saling tersenyum dan bertatapan. Tangan Dika masih erat memegang tanganku. Hingga genggaman itu terlepas di ujung jalan. Dika melambaikan tangganya lalu berjalan menjauh, kalung Salib yang tergantung di lehernya berayun karena gerakan tubuh Dika. Sedangkan aku, sibuk merogoh tasku, mencari-cari tasbih dan bersiap untuk ibadah, sama seperti Dika.
Aku sendiri
Pagi ini aku berjalan melewati ruang kelas mu, sepi sama seperti biasanya. Aku memang datang lebih pagi hari ini, aku hanya ingin menghindar sebelum kamu yang menghindar. Aku tak tau ada apa dengan kita. Hmmm.. Beraninya aku menyebut kamu dan aku adalah kita. Maaf, tapi aku mulai merasa kata itu kini melekat pada kamu dan juga aku.
Sepertinya pertemanan kita sedang di uji... Astaga betapa benci ya aku menyebut kata itu. Hanya teman tidak pernah tepat untuk kita? Paling tidak setelah orang-orang tau bagaimana "kita" yang sesungguhnya. Aku tidak pernah percaya setiap kata "sayang" atau "suka" yang kamu ucapkan. Seperti hanya sebuah tambahan saja. Pelengkap yang tak memiliki arti yang pasti. Tapi apa kamu tau? Aku selalu tersenyum setiap kali mendengar kata itu.
Kita tidak bertengkar. Terapi mengapa ada jarak di antara kita? Tidakkah kamu tau, aku membutuhkan mu--rindu lebih tepatnya. Dulu, tidak pernah ada hatiku yang terlewatkan tanpa kamu. Segalanya, seperti segalanya aku lakukan bersamamu. Atau aku memang tak bisa tanpa mu. Dulu, tawa kita adalah satu. Bahagia kita adalah bersama. Pertengkaran kita adalah penguat. Tapi kini, aku merasa sangat jauh... Sangat jauh. Apa yang salah?
Aku melangkah melewati tangga. Sial,! Aku semakin dekat dengan kelas mu. Aku hanya tidak ingin melihatnya. Tidak hari ini. Tetapi kamu ada di sana. Sebisa mungkin aku berdoa agar kamu tak melihatku. Tapi sial! Mata kita saling bertemu. Aku melemparkannya sebuah senyuman padamu. Senyum rindu, senyum cinta, entah apa namanya itu, yang jelas aku melontarkannya dari dalam hati.
Aku terdiam menunggu reaksi mu. Tapi kamu hanya diam, tersenyum pun tidak. Bahkan tiba-tiba saja kamu meninggalkanku. Apa yang salah?
Aku kembali melanjutkan langkahku dengan air mata yang tiba tiba saja mengalir di pipiku. Aku menoleh, tak ada siapapun. Kini aku sadari, aku sendiri.
Sepertinya pertemanan kita sedang di uji... Astaga betapa benci ya aku menyebut kata itu. Hanya teman tidak pernah tepat untuk kita? Paling tidak setelah orang-orang tau bagaimana "kita" yang sesungguhnya. Aku tidak pernah percaya setiap kata "sayang" atau "suka" yang kamu ucapkan. Seperti hanya sebuah tambahan saja. Pelengkap yang tak memiliki arti yang pasti. Tapi apa kamu tau? Aku selalu tersenyum setiap kali mendengar kata itu.
Kita tidak bertengkar. Terapi mengapa ada jarak di antara kita? Tidakkah kamu tau, aku membutuhkan mu--rindu lebih tepatnya. Dulu, tidak pernah ada hatiku yang terlewatkan tanpa kamu. Segalanya, seperti segalanya aku lakukan bersamamu. Atau aku memang tak bisa tanpa mu. Dulu, tawa kita adalah satu. Bahagia kita adalah bersama. Pertengkaran kita adalah penguat. Tapi kini, aku merasa sangat jauh... Sangat jauh. Apa yang salah?
Aku melangkah melewati tangga. Sial,! Aku semakin dekat dengan kelas mu. Aku hanya tidak ingin melihatnya. Tidak hari ini. Tetapi kamu ada di sana. Sebisa mungkin aku berdoa agar kamu tak melihatku. Tapi sial! Mata kita saling bertemu. Aku melemparkannya sebuah senyuman padamu. Senyum rindu, senyum cinta, entah apa namanya itu, yang jelas aku melontarkannya dari dalam hati.
Aku terdiam menunggu reaksi mu. Tapi kamu hanya diam, tersenyum pun tidak. Bahkan tiba-tiba saja kamu meninggalkanku. Apa yang salah?
Aku kembali melanjutkan langkahku dengan air mata yang tiba tiba saja mengalir di pipiku. Aku menoleh, tak ada siapapun. Kini aku sadari, aku sendiri.
Merindukan lagi
Aku merindukan mu lagi. Entah seberapa bodoh diriku ini. Tak tau diri, merindukan orang yang telah menjalani hidupnya dengan orang lain. Tapi aku rindu! Jangan salahkan aku. Aku sendiri tak ingin merindukan mu. Aku tak suka saat kenangan kita datang menghantui. Aku tak suka saat memandangmu dan mengingat bagaimana kita dulu. Aku tak suka, Tapi Aku biasa apa.
Aku bisa apa selain merindukan mu? Aku bisa apa selain mengingatmu?aku bisa apa selain memandangmu?
Aku ingin menjadi dia. Melakukan segalanya untukmu. Aku mau! Tapi aku bisa apa?
Izinkan aku merindukan mu hanya untuk hari ini. Izinkan aku kembali mencintaimu dalam diam.
Aku bisa apa selain merindukan mu? Aku bisa apa selain mengingatmu?aku bisa apa selain memandangmu?
Aku ingin menjadi dia. Melakukan segalanya untukmu. Aku mau! Tapi aku bisa apa?
Izinkan aku merindukan mu hanya untuk hari ini. Izinkan aku kembali mencintaimu dalam diam.
Saturday, July 13, 2013
they need you're help
Lihatlah air mata mereka...!
Tetapi lihatlah juga senyum mereka...
Lihatlah bagaimana mereka mererasakan sakit..!
Dan lihat juga bagaimana mereka mereka berjuang..
Lihat berapa banyak yang Pergi..?
Dan lihat juga berapa banyak yang Tetap bertahan..?
Dengarkanlah Jeritan mereka..!
Dan dengarkan juga Tawa mereka..
Dengarkanlah Sesak dan pedih mereka...!
Dan dengarkan juga Lafas AllahuAkbar dari mereka..!
Rasakanlah Kesengsaraan mereka..!!
Dan rasakalah juga Bahagianya mereka di akhirat sana..!
Mereka bertahan, mereka berjuang, mereka tersenyum
karena mereka yakin Allah bersama mereka.. :)
let them breath.! see this video..!!
They need you're help..!! keep support Palestine..!!
Kalian bisa membantu dengan menyumbang ke :
Rekening donasi : *No. Rek BSM : a.n komite nasional untuk rakyat palestina 701 836 2133
No rek BCA : a.n komite nasional untuk palestina 760 032 5099
Knrp pusat, jalan jabir no.11
Ragunan- jakarta selatan
telp : {021-781 2311)
Terimakasih : )
Subscribe to:
Posts (Atom)



